Posted on

Pop yang Menghebohkan Dunia Seni

Suka atau tak suka, seni pop telah menjadi fenomena artistik dekade 1960-70an. Di antara berbagai gerakan seni yang pernah ada, rasanya seni pop-lah yang di masa pertumbuhannya sempat membikin heboh berbagai kalangan, sebagian pihak menyebutnya sebagai skandal di dunia seni, bersamaan dengan itu bangkit gelombang protes dan diskusi-diskusi keras antara yang membela dan yang menentangnya.

Kiranya hanya seni pop pula yang pernah menjadi perebutan klaim antara Eropa dan Amerika. Beberapa buku yang bisa kita temukan memperlihatkan kecenderungan perang klaim ini; tergantung siapa dan di mana buku tersebut terbit maka ke arah itulah bandul klaim bergerak.

Buku kecil semacam pengantar apresiasi yang ditulis oleh Josi Pierre yang kali pertamanya terbit di Paris tahun 1971, antara lain menyampaikan kalimat, “sesungguhnya subjek tipikal penggayaan pop, itu mulai terdengar di luar AS bahkan beberapa tahun sebelum penggayaan ini berkembang di kontinental Amerika. Hal ini bisa diruntut berdasarkan kesejarahan dan sosiologinya. Ia bermula di Inggris dan Jerman, dua negara yang boleh dikatakan “sebelum” dan “setelah”nya barulah muncul di peradaban Yankee. Di sekitar tahun 1955, terminologi Pop Art mulai digunakan oleh beberapa seniman Inggris…”

Itu bisa dibandingkan dengan “Seni Modern” tulisan Trewin Copplestone yang terbit di New York tahun 1985. Penempatan tulisannya pun di bagian bab “seni di Amerika.” Kalimat pembuka dari tulisan tersebut untuk memberikan gambaran latar penyebab pertumbuhannya, itu kita lihat seperti berikut, “satu dari sekian kekuatan Amerika yang hadir di Eropa setelah Perang Dunia ke-2 adalah dominasinya Abstrak Ekspresionisme, seni Barat yang banyak menarik perhatian kalangan budaya Amerika dan belakangan dipelajari dengan baik oleh kalangan Eropa.”

Bahkan ketika tulisan tersebut sampai ke ulasan seni pop, ada nada mengakui asalnya dari Inggris tapi “jadi” dan berkembangnya ditandaskan terjadi di AS, kita lihat kalimat klaim tersebut, “in the late 1950s at first in London but soon in New York too, a new and rather surprising development took place.

Belakangan atau beriring dengan hebohnya “seni baru” ini, di Indonesia muncul “Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB).” Merujuk beberapa eksponen di belakang GSRB, kemudian esei-esei senirupa yang pernah muncul di majalah pop “Aktuil,” pun rubrik-rubrik seperti “Puisi Mbeling” dan kemudian “Puisi Awam” (semua ini hanya berdasarkan ingatan karena dokumennya sudah tidak ada, hd); maka sesungguhnya bisa dikatakan bahwa GSRB itu adalah perpanjangan dari gerakan pop yang berlangsung di Indonesia di tahun 1970-an. Dan seperti apa yang terjadi di sono-sono-nya, di sana-sini saling berkait dengan “Dada” serta happening arts.

Tapi apa dan bagaimanapun, ada baiknya kita buka kembali catatan yang telah tertimbun 30 tahun ini. Sambil bernostalgia kita lihat kembali apa dan bagaimana kesenian yang sempat menghebohkan ini.

Seni pop di Inggris. Teori Seni Pop Inggris dicetuskan antara tahun 1952 dan 1955 di dalam pertemuan “Independent Group” di Institute of Contemporary Arts London. Anggota dari kelompok ini mencakup arsitek Reyner Banham, kritikus Lawrence Alloway, seniman-seniman Richard Hamilton, Eduardo Paolozzi dan William Turnbull. Di dalam pertemuan itulah Alloway menyatakan: “jelaslah bahwa kita memiliki bahasa kebudayaan awam yang berlanjut ke arah beragam hal khusus atau beragam keahlian, baik di bidang seni rupa, arsitektur, disain, pun kritik-seni; yaitu hal yang dilakukan oleh kita semua. Wilayah kontaknya adalah produksi massal kebudayaan urban: bioskop, periklanan, fiksi sains (science fiction). Kita merasakan tak seorang pun yang tidak suka standar kebudayaan komersial termasuk di dalamnya sebagian besar kalangan intelektual. Semua menerimanya sebagai fakta, mendiskusikannya hingga ke detail-detailnya, dan mengonsumsinya dengan sangat bergairah.”

Kata “pop” digelindingkan oleh Alloway untuk mengidentifikasi gambaran dari kebudayaan awam yang populis (populer) ini, yang hidup dan diarahkan bagi kehidupan awam, manusia biasa (unspecialized man-in-the-street) dan kalangan anak muda. Belakangan digunakanlah kata “pop” tersebut untuk mengidentifikasi model baru seni figuratif yang muatan-muatannya berkenaan dengan batasan awam, kebudayaan urban, dan populer itu.

Adalah sebuah pameran bertajuk This is Tomorrow, berlangsung di Whitechapel Art Gallery tahun 1956, menampilkan karya-karya Richard Hamilton antara lain collage-nya yang berjudul Just what is it that makes today’s homes so different, so appealing? Inilah yang kemudian dianggap kilasan tanda (foreshadow) bagi munculnya sebuah gerakan. Pada tahun 1957 karya Peter Blake berjudul On the Balcony was completed, dinyatakan sebagai “karya figuratif utama.” Kemudian di tahun 1959 atau 1960 para Popist (pelaku pop) muda seperti Kitaj (yang datang ke Inggris tahun 1958), Boshier, Hockney, Allen Jones, dan Peter Phillips, mulai berpameran di The Young Contemporaries sebuah jaringan dari galeri-galeri R.B.A. Inilah moment kemunculan “Generasi Baru” yang berpameran di Whitechapel Art Gallery.

Serangkaian gebrakan, urut-urutan peristiwanya: di tahun 1963 Inggris merepresentasikan sejumlah senimannya yaitu Blake, Hockney, Jones dan Phillips pada Paris Biennale for Young Artists, pada tahun 1964 Seni Pop Inggris tampil di The Hague, di Vienna dan Berlin dalam sebuah pameran bertajuk Nieuwe Realisten. Pada tahun 1976 sebuah pameran “Seni Pop di Inggris,” diorganisasikan oleh Dewan Kesenian (the Arts Council) Inggris, karya-karya ini tampil pula di Kunstverein di Hamburg, Stadtische Gallery im Lenbachhaus, Munich, dan York City Gallery. Dalam pameran itu terdapat dua bagian sajian: (1) kelompok yang dianggap pionir yaitu Paolozzi, Hamilton, Blake, Tilson; dan (2) kelompok pelanjut yaitu Hockney, Kitaj, Boshier, Richard Smith, Allen Jones, Peter Phillips.

Kecenderungan utama pelaku Seni Pop di Inggris berlandaskan pada individualistik yang ekstrem, baik dalam hal sikap atau pun penggayaan. Meski demikian, mereka tetap memiliki perhatian umum terhadap wacana sekitar gambaran (imagery) media massa, iklan-iklan barang-barang konsumtif keseharian, dsb., tapi dalam penggunaan gambaran (imagery) ini masing-masing sungguh sangat berbeda. Pada awalnya, dan terutama pada kasus Paolozzi dan Phillips, keduanya tampak menaruh minat terhadap gambaran populer kebudayaan massa yang kemudian diperlakukannya sebagai simbol romantik sekaligus nostalgik. Mereka pun memperhatikan berbagai barang bekas (second-hand), memperlihatkan rasa takjub terhadap keberhasilan dan perkembangan teknologi Amerika dan kemudian “memungut”nya pula sebagai medium. Sikap itulah yang mengilhami seni baru (the new art) yang kemudian berkembang lebih jauh menjadi semurni-murninya revolusi artistik.

Gerakan ini pada dasarnya menolak dua hal sekaligus yaitu seni tradisional dan seni yang ditujukan bagi kemapanan. Oleh kecenderungannya itu, maka lebih berjalin dengan jaringan yang berhasrat membongkar batas antara yang disebut kebudayaan ‘tinggi’ dan ‘sub-culture’ yang populer dan oleh sebagian orang dianggap rendahan. Cara yang dilakukannya yaitu dengan menyerap imaji-imaji mutakhir dunia ‘sub-culture’ tadi tanpa ada perasaan/perlakuan/sikap benci terhadap ke-sepele-an dan ke-banalitas-annya, sekaligus tanpa menghakiminya sebagai sampah melainkan menerimanya sebagai standar estetik. Penolakan terhadap seni Mapan (Establishment art) ditunjukannya secara besar-besaran dengan mengedepankan simbol-simbol generasi muda semisal film-film Hollywood, fiksi sains (science fiction), kartun/komik strip dan budaya Teddy-boy.

Di samping ketertarikan terhadap sosiologi primer seperti tersebut di atas, Popists (pelaku seni Pop) sebagai seniman-seniman tulen sekaligus profesional sesungguhnya dilandasi pula oleh pengetahuan yang lengkap tentang sikap artistik seniman terdahulu (generasi sebelumnya), maka mereka pun jadi begitu memperhatikan masalah-masalah piktoral murni (purely pictorial), baik sebagai representasi alamiah atau pun sebagai problema semantik komunikasi yang menggunakan sumbolisasi visual.

Dengan satu atau lain cara mereka semua mengalami dan berada di dalam problema-problema kebudayaan (urban) yang baru ini. Bersama dengan waktu, semua ini bermunculan sebagai amatan sosiologis mereka dan kemudian menjadi ruh dari Seni Pop. Di dalam katalog pameran “Seni Pop di Inggris” ihwal semua itu dengan tajam dikatakan: “Seni Pop bukan hanya mengamati realitas piktorial sebagai sebuah objek tapi juga mempertanyakan, ‘Berapa banyak macam simbol-simbol dan makna-makna yang bisa dimuatkan ke dalam suatu karya?’ (Lawrence Alloway) dan ‘Seberapa jauh simbol-simbol itu bisa direduksi tanpa harus kehilangan nilai informasinya?’ Sifat multi-pernyataan (multi-evocative) bahasa piktorial-nya Paolozzi adalah jawaban bagi pertanyaan pertama, dan dunia piktorial-nya Hamilton yang berupa investigasi secara mendalam terhadap media adalah jawaban bagi pertanyaan kedua. Kedua jawaban itu diberikan tidak di dalam sesuatu yang sistematik, bergaya ilmu pengetahuan melainkan lewat bentuk artistik. Maka refleksi gambar-gambar dan efek-efeknya pun menjadi komponen penting dari setiap karya kalangan Popists Inggris. Dengan gambar-gambar di dalam ‘gambar’nya, Blake menunjukan perhatiannya terhadap dominasi reproduksi; Hockney memperkenalkan tautologi untuk mereduksi informasi yang hilang dan melakukan simplifikasi kemungkinan legalitas dan interpretasi; Tilson seperti melihat drama di dalam drama, dia tertarik pada tingkatan realitas dan ilusi piktorial, ini terlihat ketika ia mengombinasikan secara halus antara gambar-gambar dan kata-kata demi menunjukan titik-titik identitas informasi dengan menggunakan simbol-simbol yang saling berbeda; Jones dan Phillips, dengan kecenderungannya masing-masing mencoba mengintegrasikan gambar dengan objek yang pernah terpresentasikan, semisal ilustrasi yang pernah dipakai sebagai ilustrasi di suatu terbitan (prinsip problem semantik); Kitaj dengan karya-karyanya memperlihatkan gambaran betapa sukarnya manusia dalam hal berkomunikasi.”

Seni pop di Amerika. Seni Pop di Amerika mulai muncul di pertengahan 1950-an sebagai matarantai reaksi terhadap abstrak ekspresionisme. Peletak dasar atau cikal-bakalnya adalah Jasper Johns dan Robert Rauschenberg. Keduanya menggunakan imaji-imaji umum dan benda-benda Kitsch, tapi mengombinasikannya dengan kecerdikan dan pemahaman teknis yang brilian sehingga kemudian justru melepas karya-karyanya dari kungkungan kekuasaan Kitsch sekaligus berontak. Seni Pop Amerika berakar pada “Dada” bahkan adakalanya dikenal sebagai “Neo-Dada.” Juga memiliki kaitan dengan Seni Indian Amerika dan dengan seni primitif Amerika, oleh karena itu adakalanya Seni Pop Amerika kelihatan seperti bunga baru dari tradisi nasional. Ini ditandai oleh peristiwa di Milwaukee Art Center pada tahun 1965, di sana diselenggarakan sebuah pameran dengan tajuk Pop Art and the Amerikan Tradition.

Pelaku Seni Pop Amerika yang paling dikenal, tentu saja, Andy Warhol, Jim Dine, Roy Lichtenstein, Claes Oldenberg, Tom Wesselmann, James Rosenquist, Robert Indiana. Richard Smith dan Larry Rivers pun bisa dikelompokkan kepada kecenderungan ini, bersamanya juga adalah pematung George Segal dan Marisol. Di California adalah juga yang berkait dengan Seni Pop semisal Mel Ramos, Edward Ruscha, Wayne Thiebaud, Joe Goode, Robert O’Oowd, karya-karya tablo-nya Edward Kienholz dan assemblages-nya Richard Pettibone. Seniman-seniman ini secara umum memperlihatkan ketertarikannya yang amat kuat terhadap kebudayaan kontemporer megapolitan yang didominasi oleh media massa dan produksi massal barang-barang konsumtif. Mereka melihat budaya baru ini dorongan terkuatnya dikendalikan oleh iklan-iklan komersial serta beragam seni kemas. Tipuan iklan ini, menurut mereka, pada dasarnya berakibat kepada pembodohan dan menimbulkan kebingungan.

Di antara rumpun Pop Amerika adalah seni assemblage dan seni happening. Gabungan semua ini berkembang dan berpengaruh begitu kuat hampir di seluruh Amerika, tapi kenyataanya pula ada di negara-negara Eropa, Latin Amerika dan Jepang, dan sesungguhnya pula di Indonesia. Dari beberapa seniman-seniman individual yang termasuk kategori Pop antara lain muncul lewat Fahlstrvm di Swedia, Alain Jacquet di Prancis, Valerio Adami di Italia, Arman dari Nouveaux Realistes dan beberapa di Jerman.

Perkembangan menarik lainnya, sesungguhnya terjadi di dunia musik yang relatif lebih ajeg dan kuat serta pengaruhnya meluas. Di samping itu, ide gerakan pop yang salah satu tuntunannya berkehendak agar seni (pop) itu mengkhalayak -salah satu alasan Warhol memakai medium seni-grafis dengan media “murah” yaitu sablon, tercapai melalui jalur industri musik pop. Lukisan-lukisan atau karya-karya visual lainnya dari beberapa seniman pop bermunculan menjadi sampul-sampul piringan hitam. Di sinilah nama-nama perupa pop lainnya bisa ditemukan, antara lain Noc yang kebanyakan menggarap sampul album Blondie; Gerald Scarfe untuk Sade; Stuart Sutcliffe untuk George Harison dan John Lennon; Andy Warhol membuatkan logo untuk Rolling Stones; dan puncak dari itu semua (menurut hemat saya) muncul pada Gerald Scarfe khususnya ketika menggarap proyek The Wall bersama Pink Floyd. John A. Walker, merumuskan gejala ini sebagai puncak bertemunya keseriusan dan kecendekiaan dunia seni dengan awam (unspecialized man-in-the-street). Itu semua ditulisannya di dalam buku Cross-Over: Art into Pop – Pop into Art. Digambarkan bahwa musik sendiri mengalami “perkawinan,” kolaborasi, pertemuan, atau seperti yang disebutnya “cross-over” antara yang awam dan yang serius.

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s