Posted on

Visual Pleasure: Konstruksi (Maskulinitas) yang Lain

Homoseksual memang tidak membangun penciptaan orientasi seksual di atas ‘memang dari sononya pasti begitu’ sebagaimana yang dipercayai oleh heteroseksual atas ketertarikannya pada lawan jenis, melainkan akan membangun sendiri kesadaran seksualnya. Heteroseksualisme adalah rancangan otoritas dan kendali proses keturunan yang menanamkan mitos bahwa hanya dengan melalui perkawinan heteroseksual dan melahirkan anak akan memastikan kekuatan politik kelaki-lakian di masa depan.

Mungkin karena ini plot dalam film porno ‘straight’, yang selalu memposisikan wanita sebagai budak, lepas dari posisi wanita yang biasanya ‘di bawah’ dan dengan ekspresi yang selalu memperlihatkan kenikmatan. Segala bentuk visualisasi yang menjurus pada pelecehan seksual (terutama bagi wanita) dan seringkali secara paksa mendukung patriarkisme dengan berbagai macam cara (seringkali lewat kekerasan) dalam film-film ini terus berulang. Bisa saja ini hanyalah pendapat yang sedikit banyak dipengaruhi oleh heteroseksualisme, tapi diam-diam saya percaya hal ini terus berulang karena tuntutan ‘pasar’ memang menghendaki demikian. Saya pernah bertanya pada beberapa kawan pria di sebuah kafe, tentang hal-hal apa saja yang pertama kali dilihat saat seorang wanita baru saja masuk. Jawabannya berbeda-beda, tapi esensinya sama: dada, kaki, bokong. Tapi yang menarik adalah kekecewaan mereka pada film porno yang ‘adegannya selalu begitu-begitu saja’ padahal film porno (lepas dari unsur cerita dan atraksi-atraksi akrobatik) intinya memang hanya pertunjukan dada, kaki, bokong, vagina, penetrasi, dan selalu diakhiri oleh kemenangan maskulinitas dengan pertunjukan kebolehan ejakulasi.

Tentang rancangan maskulinitas yang selalu menjadi gong di setiap film porno, maka boleh sebagian orang mengira film porno gay adalah pertunjukan maskulinitas yang tidak berujung. Pendapat ini memang tidak sepenuhnya salah, walau ditemukan fakta bahwa pada kenyataannya secara konseptual, visualisasi di dalam film porno gay ternyata tidak berbeda dengan film porno straight. Seperti yang sudah tersebutkan di awal tulisan ini; seorang homoseksual akan membangun sendiri kesadaran seksualnya. Pada dataran tertentu identifikasi homoseksual atas dirinya cenderung mengadaptasi beberapa konsep heteroseksualisme dalam perilaku seksualnya. Seringkali dijumpai dalam film-film porno gay produksi Falcon atau Kristen Bjorn, satu karakter (biasanya memang bintang film porno yang sudah ternama) menggambarkan tokoh yang ‘bukan benar-benar seorang homoseksual, tapi juga bukan biseksual’ (biseksualisme dihindari dalam film porno gay maupun film porno straight karena konsumen film-film ini sama sekali berbeda). Karakter yang akhirnya menjadi ‘sang lelaki’ ini digambarkan dengan dua macam cara; entah melalui narasi dan atau penampilan fisik.

Dalam narasi, karakter biasanya punya jenis profesi khusus yang bertendensi maskulin; seorang yang bekerja dalam bidang yang (masih) dikuasai oleh laki-laki misalnya; pelaut, penebang kayu, pekerja bangunan, pemadam kebakaran, penjaga istal kuda, tentara, pemain futbol, pelatih kebugaran, dan seterusnya. Dalam film porno tematik, yang bercerita di sebuah tempat khusus misalnya barak tentara, sebagian besar tokohnya adalah tentara, maka fokus bagi ‘sang lelaki’ diutamakan menangkap penampilan fisik yang menjelajahi elemen-elemen kejantanan, atau menggunakan alasan hirarkis (atasan dan bawahan). Secara garis besar fisik yang diminati di film-film porno gay adalah seseorang yang penampilan terkesan ‘perkasa dan kasar’ (saya kesulitan menjelaskan ini, tapi coba gabungkan saja fisik tokoh kartun Superman dengan perilaku Brad Pitt dalam Fight Club). ‘Sang lelaki’ biasanya tinggi berotot, tidak berkulit halus, berpakaian tidak serapi yang lain, jarang berbicara dan lebih memilih bergumam (karakter ini harus menjaga imaji yang mencoba dibangun), dan tidak digambarkan gemar bergaul dengan karakter-karakter yang lain. Pendekatan imaji laki-laki straight ini akan lebih jelas saat penetrasi, di mana dia akan memposisikan dirinya sebagai ‘sang lelaki’ yang tidak akan pernah disodomi dan selalu menyodomi tokoh-tokoh lain. Siapa yang melakukan oral sex dan siapa yang tidak juga jadi penting.

Konstruksi mengkonstruksi maskulinitas yang ‘lain’ dalam media visual ini bisa diruntut sejarahnya sejak fotografi menjadi populer sejak abad 19. Elemen penting dalam eksplorasi maskulinitas dalam fotografi adalah karya para ‘queer artists’. Pemakaian kata ‘queer’ disini (belum tentu berarti gay) digunakan untuk mendeskripsi karya/seniman yang melampaui batas ide-ide normatif heteroseksual. Ini bisa menjadi gabungan dari hasil persilangan identitas-identitas yang disebarkan secara politikal, seksual, atau praktek-praktek lain yang mempertanyakan identitas dalam perlawanannya dengan segala macam bentuk dominasi yang sering ditampilkan dalam maskulinitas. Sebelum memasuki 1900-an, sosok laki-laki telanjang dalam foto masih cenderung bernuansa romantis, walau tidak jelas apakah ditujukan untuk penyaksi pria atau wanita (atau juga keduanya). Bahkan pada masa Victoria dan Edward jarang ditemukan ketelanjangan laki-laki dalam fotografi, karena pada masa itu penerimaan orang atas foto wanita telanjang mulai terbuka, di sisi lain teori psikoanalisa mulai berkembang hingga muncul ketakutan diantara fotografer laki-laki untuk memilih obyek pria telanjang karena takut dituduh homoseksual. Foto berjudul “Bathing Pool” (1919), yang jelas diperuntukkan bagi pria, masih berusaha membangun atmosfir romantis; dua orang laki-laki telanjang bertubuh semampai dan berkulit halus berusia kira-kira berusia dibawah delapan belas tahun duduk bersebelahan dengan pose yang cenderung feminin di tepi bak berendam yang diletakkan di tengah-tengah taman yang penuh daun-daun berguguran dengan kedua tangan yang bersentuhan, dengan fokus yang lebut dan komposisi yang naratif.

Hanya beberapa tahun kemudian muncul “Nude Torso” (1922); sebagaimana judulnya foto torso yang dipotong nyaris menjadi abstrak, wajah model tidak  tampak jelas; personalisasi dan kompleksitasnya sebagai sebuah karakter di buang dan yang tertinggal hanya obyek yang sederhana. Sosok ini lebih mengundang pendapat intelektual daripada respon emosional. Dari sini mulai tercium gelombang realisme yang kental dalam fotografi sosok telanjang. Platt Lynes (1970-55), seorang fotografer komersial dan fotografer fashion yang berpengaruh juga memproduksi beberapa foto laki-laki telanjang yang dimuat di majalah homoseksual Swiss “Der Kreis”. Karya-karyanya estetis dan realis, menghindari abstraksi dan pembuangan karakter, hingga menjadikan sosok laki-laki telanjang menjadi lebih emosional, dan diam-diam membangun erotisme yang sensual. Penerus Platt Lynes adalah Minor White, yang menggunakan fotografi untuk mengekspresikan emosinya yang kacau balau atas situasi homoseksualitasnya sendiri, akhirnya perkawinan antara erotisme dan kegelisahan sang seniman terurai dalam setiap foto realis. Atmosfir kebebasan setelah Perang Dunia II juga mempengaruhi cara orang menanggapi karya fotografi. Majalah-majalah yang sebelumnya menentang keras foto-foto yang menjurus pada homoerotisme mulai bersikap lunak walau kebijakan sensor atas erotisme masih cukup keras bahkan sampai tahun 70-an, saat industri video porno mulai merajai pasar.

Paling menarik adalah gelombang baru fotografi fisikal di akhir tahun 1940, berpusat di daerah pantai barat Amerika, yang efeknya masih berpengaruh hingga saat ini. Sejumlah selebritis pria sanggup menjadi model dalam majalah-majalah, bersamaan dengan isu gay subculture mulai jadi pusat perhatian masyarakat. Majalah “Physique Pictorial” (1951) sangat populer, terutama di kalangan homoseksual. Walaupun para fotografer masih memakai kaidah klasik untuk melegitimasi penggambaran laki-laki telanjang, sejumlah rancangan visualisasi ketelanjangan laki-laki yang lebih eksplisit (secara terang-terangan menampilkan ketelanjangan berbau erotisme) bisa ditemukan dalam berbagai macam gaya yang menonjolkan hanya maskulinitas dan maskulinitas. Majalah-majalah mulai mengembangkan gaya-gaya fotografi yang cenderung sangat ‘menyerang’. Laki-laki ditampilkan kekar, kuat, dan sehat (doktrin imaji remaja amerika). Awalnya masih dalam rangka yang klasik (rancangan studio dan pengaruh film-film romantis hollywood) namun berangsur-angsur bergeser ke arah stereotip maskulin seperti koboi, kelasi, polisi, penebang kayu, pengendara motor besar, dan pria-pria pemakai jaket kulit. Imaji laki-laki yang berbadan ideal terus menjadi identik dengan homoerotisme. Pada awal 70-an, terbit artikel Laura Mulvey bertajuk “Visual pleasure and Narrative Cinema” yang mengungkapkan bahwa narasi dalam film, khususnya film-film Hollywood yang memposisikan penonton sebagai komuni yang homogen; para pemuja keindahan tubuh laki-laki tanpa menghiraukan identitas penonton yang sebenarnya.

Artikel ini mengundang banyak tanggapan, dan para kritikus teori sosial mulai menganalisa perbedaan antara hasrat dan fungsi seksual pada tubuh laki-laki dan wanita dalam film. Sedangkan pandangan dari para ahli psikoanalisa sendiri mengidentifikasi maskulinitas yang homogenik sebagai akar homophobia; homoseksual tidak lagi dilihat mengandung feminitas yang kental, melainkan adalah respon dari kontrol dan tekanan yang propagandis oleh normalitas maskulin dalam heteroseksualisme. Lebih-lebih lagi pada akhir 80-an ketika bodybuilding diklaim menjadi bagian dari budaya heteroseksual akibat mantan Mr. Universe Arnold Schwarzenegger berhasil memberi identitas baru pada tubuh laki-laki; tubuh yang tampak seperti binaragawan, diikuti oleh kesuksesan film-film seperti “Rambo”.

Pada perkembangannya, kaburnya batasan jender sudah menjadi fakta yang penting dalam eksplorasi maskulinitas. Menerobos batasan-batasan yang ada, mendobrak batasan yang kukuh, yang sebelumnya selalu menempatkan seseorang dalam satu posisi jender, membebaskan ruang ekspresi dan intrepretasi seperti dalam advertensi Calvin Klein untuk parfum “One” dan parfum “Crave” (yang juga bergeser jauh dengan konsep advertensi Calvin Klein Underwear) kemudian Del LaGrace Volcano yang mendokumentasikan dua orang laki-laki bergaya punk-neo-metal duduk bersila berdampingan. Bila dilihat sepintas hanyalah seperti dua orang sahabat difoto begitu saja sebelum pergi ke sebuah konser musik cadas tanpa ada tendensi seksual (sekaligus juga membuka intrepretasi lain) melenyapkan batasan jender dan menghadirkan ruang dimana ‘siapa yang menjadi apa’ tidak lagi penting.

Pergesaran ide maskulinitas yang selama ini digambarkan dalam film porno gay tidak juga beranjak secepat dan setegas perkembangan advertensi dan fotografi fashion. Terebih karena selera individu dalam pasar masih terus-menerus dikontrol oleh otoritas heteroseksualisme, sedang pada saat yang sama pilihan artistik seniman selalu susul-menyusul dengan isu politik dan fenomena sosial. Berbicara tentang orientasi seksual, bagaimanapun juga setiap gay masih saja terus merindukan mimpi-mimpi abadi di suatu masa yang bahkan sudah menjelma dongeng; saat prajurit-prajurit Romawi selalu membawa serta lelaki-lelaki muda berkulit halus ke medan perang untuk menggantikan isteri-isteri mereka yang ditinggalkan di rumah.

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s