Posted on

Seks..Shocks..Sensuality

Budaya kita adalah budaya ejakulasi  prematur” – Jean Baudrillard –

APA yang tak terlihat selain tubuh dan tubuh perempuan yang menjual (atau dijual?). Media tak ubahnya sebuah etalase. Bisa kita coba melakukan eksperimen kecil dalam hal ini.  Dengan memilih beberapa  media sebagai sampel secara acak dan secara acak pula kita buka, dan di sana  bisa dipastikan mata kita akan menemukan sosok “tubuh”, entah lelaki atau perempuan. Euforia atas Tubuh.

Syuga, yang jika meminjam istilah Emmanuel Subangun adalah perempuan dalam jagad tubuhnya yang ditiup angin ke dunia antara khayal dan kenyataan. sebagai tubuh yang dipandangi, disentuh, dinikmati dan ditelusuri, tapi tanpa pernah bisa kekeringan rasa.

Seks telah kehilangan auranya. Karena seks bukanlah sesuatu yang bersikeras untuk menampakkan dirinya, melainkan sesuatu yang terus bersembunyi di mana-mana, seks seperti suatu kehadiran yang terselubung, yang kurang dihiraukan suaranya karena kehadirannya begitu berbisik, begitu lembut dan seringkali samar-samar.

Media-media yang beraroma erotis ataupun pornografi yang pada masa lalu (bagi generasi 80-an-90-an) hanya kita dapatkan dengan mencuri-curi membaca Enny Arrow atau ketika dengan susah payah kita dapatkan majalah Playboy. Kini erotika dan pornografi seolah telah kehilangan “aura”-nya, ketika suguhan tubuh kini setiap hari ada di depan mata. sebagaimana yang terjadi dalam keseharian kita yang sedang dalam proses pergeseran dari kebudayaan yang berpusat pada kekuasaan perkatan atau gagasan ke kebudayaan yang berpusat pada citra dan bentuk visual.  Tubuh tidak sekedar menjadi (sekedar) ikon representasi, ataukah tubuh telah hadir (hanya) sebagai tanda-tanda tanpa referen, yang hampa, sia-sia, absurd dan tanda yang membinasakan dan menyerap  kita?

Semakin banyak media yang memang bermain dalam area “seduction” atau bahkan media massa (surat kabar) umum pun tak ingin ketinggalan untuk menjadikan daya tarik “tubuh” sebagai media fashioning-nya, terutama untuk edisi minggu-nya. Beramai-ramai merayakan tubuh yang telah dikonstrusi sebagai sebuah tanda (sebagai objek tanda) dalam satu proses signifikasi melalui wacana media massa. Semakin banyak media bermunculan semakin mudah tubuh di dapat. Begitulah kira-kira kini siklus yang sedang berlangsung. Dalam hal ini, bisa kita jadikan sampel aktual, Majalah-majalah dengan cita rasa eksklusif, seperti Popular, ME, FHM, Kosmopolitan, Matra. sampai media-media pinggiran (POP, BOM, HOT, Lolita, Lipstik) yang bisa dibeli di sembarang kios koran oleh anak di bawah 10 tahun sekalipun. Atau tak perlu membeli, kini seksualitas dapat dinikmati secara gratis melalui tayangan TV. Sarana internet yang semakin melumerkan berbagai sekat apapun. Realitas inilah, yang kini menjadi realitas yang paling lekat dengan keseharian kita.

Media komunikasi modern, baik media cetak ataupun TV telah membentuk selera massal, yang bisa dinetralkan sampai batas-batas yang memuaskan semua lapisan masyarakat. penyeragaman produk budaya, yang menjadi logika industri kebudayaan. Inilah yang mungkin disebut sebagai “estetika komoditas”. Iklan yang secara khusus dikatakan mampu mengeksploitasi kebebasan untuk menampilkan citra romantik, eksotis, sampai ejakulasi. Model agency semakin marak bermunculan, baik yang bergerak secara profesional ataupun secara amatir. Model agency global, seperti Ellle, Elite Model, atau Looks models Inc, yang secara membabi buta melakukan perburuan model, untuk memenuhi besarnya pasar model akibat meningkatnya dunia hiburan di televisi atau media lainnya.  Perburuan yang terjadi, yang tentu saja gadis-gadis dengan usia  dikategorikan selain cantik, “segar” dan memenuhi kriteria sexy yang diinginkan selera kapital. Inilah yang mungkin disebut sebagai “estetika komoditas”. Iklan yang secara khusus dikatakan mampu mengeksploitasi kebebasan untuk menampilkan citra romantik, eksotis, sampai ejakulasi. Eksploitasi erotisasi yang lebih bersifat ekonomis.

Dalam kerangka wacana tentang “tabu”, yang mempunyai peranan penting dalam mendefinisikan dan membentuk dunia penampakan atau dunia objek-objek, karena fungsinya sebagai referensi dalam proses ideologi, dalam menentukan posisi seseorang sebagai subjek dalam suatu system signifikasi social. Tabu memberikan rambu-rambu mengenai pa yang pantas, kurang pantas dan tak pantas unt7uk dilihat, dipertontonkan, dilakukan atau direpresentasikan melalui citra-citra dan objek-objek di dalam suatu system representasi sosial. Namun kini konstruksi temtang tabu sendiri telah mengalami dekonstruksi. Ketika mastyarakat diperbolehkan melihat, mempertontonkan, melakukan atrau merepresentasikan yang sebelumnya dianggap tabu, amoral, atau abnormal, maka sebenarnya kini tidak ada lagi rahasia di dalam dunia realitas.Bahkan realitas seksyual itu sendiri kini sebenarnya sudah memudar (kalau tidak dikatakan tidaka ada), sebab Ia hanya bisa ada jika masih ada sesuatu yang diraghasiakan, direpresentasikan, difantasikan. Yang tersisa sekarang, adalah citra-citra seksual yang hiperealitas kesenangan.

Apakah tidak terpikir, bahwasanya ada pihak-pihak yang merasakan kekerasan psikologis. Bagaimana mungkin akan ada perubahan di negeri yang hanya tahu goyang, ejakulasi dan merana ini.

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s