Posted on

How Graphic Design Can Save the World

Sweet dreams are made of this…

“When we’re providing information, we are hopefully enlightening others. When we’re providing direction, we are helping people find their way through the world.” – DAVID STERLING –

Tulisan ini bisa jadi adalah bentuk representasi dari mimpi-mimpi indah suatu generasi, yang telah terjebak dalam situasi postmodern, dalam kondisi “stagnasi”, saat dimana kita tidak mungkin lagi dapat kembali pada suasana “garden of eden”, akan tetapi di sisi lain kita selalu didera oleh berbagai kecemasan akan semakin terampasnya keseimbangan ekologi. Mimpi-mimpi indah yang selalu datang dalam galau di tengah hari oleh seorang desainer grafis, yang setiap malam bergadang, selalu telat bangun pagi dan raut mukanya bahkan (selalu runyam), untuk menyelamatkan ‘satudunia’ dari ancaman kerusakan ekologis. Dalam era seperti itulah generasi kita hidup sekarang ini: “the age of risk”, ketika segala macam bentuk hasil budaya pada masanya akan terhisap ke dalam sebuah “lobang hitam” yang semakin menganga.  Harapan dan kerinduan kita untuk kembali pada masa-masa ‘nature’, istilah yang kemudian populer sebagai gerakan “back to nature” yang oleh sebagian orang telah dijadikan sebagai mahzab (pernah lihat film ‘the beach’-nya leonardo de caprio?). Film yang secara ‘tragis’ mengambarkan hedonisme sebuah generasi yang merindukan ‘utopia’ tentang kondisi “garden of eden” tersebut. Akankah mimpi-mimpi indah yang terus datang di tengah hari ini, hanya akan terbentuk dalam sebuah kenyatan tragis? Bukankah hanya dengan melihat masa lalu, kita mendapatkan bayangan tentang apa yang hilang di masa kini? Namun, entah disebabkan oleh ketaksadaran, ketidaktahuan, atau mungkin oleh sikap apatisme kita yang berlebih, kini harapan-harapan tersebut serasa semakin menjauh dan pudar, atau mungkin pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah utopis belaka.

Sementara issue-isseue tentang “global warming”, kerusakan lapisan ozon, semakin mewabahnya kanker dan gosip-gosip tentang terganggunya sistem reproduksi akibat penggunaan unsur-unsur dan senyawa kimia kini kian merebak. Yang menjadi pertanyaan disini, adalah dimana aktualitas seorang desainer ketika menghadapi peristiwa seperti itu, ketika bahan-bahan yang semakin merusak atmosfer bumi, dengan melepas klorin serta gas-gas beracun lainnya, seperti kloroflourkarbon (CFC), halon atau metil bromida yang terus naik ke atmosfer dan membentuk lubang pada lapisan ozon ? Tidak banyak yang dapat dilakukan seorang desainer untuk melawan ancaman-ancaman baru seperti ini. Mimpi-mimpi yang indah dan bass…ahh, sekalipun tak akan dapat kita wujudkan tanpa komitmen dan dedikasi untuk menjaga keseimbangan ekologis sangat dibutuhkan bagi seorang desainer, bukankah seharusnya kreativitas meskinya dimanfaatkan untuk memperindah dan mewarnai wajah dunia dan bukan untuk menciptakan polusi visual ? Lalu bagaimanakah sebenarnya konsep serta definisi dari eco design itu sendiri? Dan sejauh manakah sebuah desain dapat diprioritaskan sebagai desain yang ekologis? So, if you want to save the world, come down to earth .…….

Setiap individu kreatif, masing-masing memiliki kriteria dan standarisasi yang berbeda, dalam hal ini setiap pelaku kreatif bisa saja memiliki persepsi yang berbeda dalam memandang dan bersikap terhadap rawannya keseimbangan ekologis melalui cara yang berbeda. Bingkai estetika yang disampaikan oleh desainer, dapat dikomunikasikan melalui berbagai cara. Ada yang mengambil ‘angle’ ecologis-nya berdasar pada unsur-unsur ekologis yang akan dimanfaatkani sebagai media desainnya, ada yang lebih mengutamakan muatan (contents) yang berupa pesan-pesan tentang penyadaran ekologis yang dikomunikasikan melalui desain. Ada pula yang lebih mengacu ke permasalahan ‘enviromental’-nya, yaitu lebih mengedepankan pada hal-hal yang lebih mengacu pada pemilihan lokasi, penempatan yang strategis dan lebih menyesuaikan dengan arsitektural dan tata ruang yang telah ada, sehingga tidak merusak keseimbangan lingkungan dan ekologis disekitarnya. Berbagai ragam persepsi tentang eco design bisa lebih meluas lagi, hal ini dikarenakan peran aktif yang dibutuhkan dalam mensikapi ‘penyadaran’ dalam wilayah ini juga tak terbatas. Apalagi jika dipandang dari aspek yang meliputi keselarasan dengan lingkungan (enviromental friendly), yang jika ditelaah lebih jauh dapat menjadi lebih kompleks. Konsep tentang eco design, memiliki bingkai estetis yang dapat diterapkan kepada berbagai struktur dan perencanaan desain, terutama dalam desain produk, desain packaging, desain industri bahkan ketika telah bertemu dengan perencanaan arsitektur atau tata ruang kota, yang banyak melibatkan aspek-aspek tentang komposisi, pewarnaan dan bahkan pencahayaan.

Sebagai seorang desainer, meskinya kita tidak gagap terhadap penggunaan media yang mengandung unsur yang “non-toxic” serta “enviromental friendly”. Pengetahuan dan kesadaran kita, sangat berpengaruh dalam mengambil keputusan, ketika kita meski menghindari  atau meminimalisir penggunaan media yang membawa resiko merusak keseimbangan ekologi. Kita meski jenial dalam mendeteksi penggunaan tinta atau cat sintetis dan mencoba beralih pada  penggunaan tinta atau cat anti chlorine (element chlorine-free). Mulai saat ini, kita bisa ‘mereka-reka’ secara kreatif, untuk mencipta dengan menggunakan pewarna yang lebih ‘enviromentally-sound collor’ dari bunga-bungaan, buah-buahan, sayuran/tumbuhan, getah, kulit kayu, kulit telur atau zat-zat warna yang terkandung dari unsur-unsur alami, namun tetap harus menjaga keseimbangan populasinya. Poin penting yang harus terus kita gagas adalah bagaimana kita bisa mengolah hal-hal organic di sekitar kita untuk mengurangi penggunaan unsur-unsur sintetis. Maraknya produksi dan penggunaan media kertas ‘recycle’, adalah salah satu aktualisasi dari eco design. Pendaur-ulangan sampah kertas yang benar-benar 100% ‘postconsumer’, adalah salah satu sikap aktif dalam melakukan aksi penyelamatan ekologi. Dengan mengolah kertas-kertas bekas yang mungkin tidak terpakai lagi dan hanya menjadi sampah tak terpakai, dapat  kita manfaatkan untuk mencipta estetika baru, menjadi selembar kertas yang memiliki sense dan dimensi baru tentang citarasa, estetika baru yang terlihat more beautiful, more comunicative dan good to the earth.

Dalam desain packaging, poin penting yang harus kita ingat ialah bahwa setiap produk pasti akan menghasilkan sampah, baik yang cepat membusuk (garbage) atau pun sampah kering (rubish) dan bahkan sampah yang tidak dapat terurai, seperti styrofoam, plastik, beling, kaleng, aluminium, logam, dsb. Kita meski terus memutar otak dan menggagas, bagaimana cara-cara mendesain suatu kemasan yang selalu berorientasi ‘recycleable’.  Dibutuhkan kreativitas desainer untuk menciptakan karakter desain kemasan yang ‘recycleable’, yang mampu memberikan informasi kepada konsumen tentang keseimbangan ekologis. Sebuah desain dengan karakter ‘eco design’, diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran baru kepada konsumen, bahwa sebuah kemasan adalah ‘art-designed’. Dan memberikan pemahaman tentang pemakaian secara berkesinambungan (reduce-reuse-refile-recycle) adalah bingkai ‘estetis’ dan karakter ramah lingkungan dari sebuah package design. Desainer harus mampu memberikan informasi serta penyadaran , tentang efek samping yang sangat buruk  dari penggunaan foam cup dari kemasan-kemasan yang sekali pakai bisa langsung dibuang (disposable), yang sungguh tidak ramah lingkungan, yang ironisnya kini semakin digemari oleh masyarakat kita, terlebih para generasi muda. Seperti penggunaan styrofoam atau polystyrene, yang selain limbahnya tidak mudah terurai (membutuhkan waktu 500 tahun untuk dapat musnah), juga jika dipakai sebagai kemasan (makanan) akan menimbulkan kanker dan kerusakan sistem reproduksi (endocrine disrupting chemichals). Sebagai sebuah bahan yang sungguh tidak ‘biodegradable’ (cara penghancuran sampah dengan proses alam), styrofoam dibuat dari benzene, yang dikenal sebagai penyebab kanker. Dan dampak global yang dimunculkan oleh styrofoam adalah menimbulkan gas HCFC-22 yang memberikan kontribusi akut terhadap rusaknya lapisan ozon.

Wujud penyelamatan keseimbangan ekologi, juga dapat diekspresikan melalui poster-poster atau penciptaan rambu-rambu yang ber-contents ekologis. Efektifitas sebuah poster atau rambu-rambu sebagai sarana sebagai  sarana menyebar wacana tentang kesadaran ekologis kepada masyarakat atau untuk mengkampanyekan sesuatu, terletak pada kekuatan sistem penandaan yang dimilikinya. Dalam era pencitraan seperti sekarang ini, penggunaan gambar  (simbol) sebagai sarana untuk membangun image memiliki efektivitas yang signifikan. Gambar lebih memiliki kekuatan visual yang multi ungkap. Ruang gerak yang dimiliki sebuah gambar lebih leluasa untuk menyampaikan berbagai informasi, yang mungkin karena beberapa batasan tertentu tidak dapat tersampaikan oleh bahasa verbal. Kekuatan gambar sebagai penanda itulah, yang jika ditinjau dari persepsi ilmu tentang tanda (semiotika), kekuatan gambar sebagai penanda terletak pada taraf ungkapan (level of expressioin) yang ada pada unsur ‘fisik’-nya, seperti warna, fond huruf, image, kata, dsb. Dan visi, misi atau gagasan (apa yang diwartakan) terletak pada taraf petanda (level of content). Rambu-rambu sangat dibutuhkan untuk merealisasikan green map system (apa pula ini..?), adalah sistem pembuatan peta untuk menampilkan sumber daya lingkungan dan budaya, yang bertujuan untuk mengembangkan kebiasaan hidup perkotaan yang sehat dan sesuai dengan asas berkelanjutan. Sistem yang dipelopori oleh Wendy Brawer (seorang desainer grafis, biker sekaligus aktivis lingkungan) yang bekerja sama dengan Modern World Design. Embrio dari sistem ini adalah Green Apple Map, sebuah peta hijau yang mengungkap komponen budaya dan lingkungan di New York, AS. Pendekatan sistematis yang digunakan oleh Wendy adalah bahwa setiap green map dapat dimanfaatkan oleh siapapun dan dimanapun. Dalam green map, Wendy menggagas sebuah standar sistem penanda baru (ikon) yang merepresentasikan tempat-tempat tertentu dalam sebuah green map (sb. Green mapper Jogja, April 2002). Tentu saja sistem green map adalah salah satu wadah yang sangat tepat untuk seorang desainer dalam mengaktualkan diri dan terlibat dalam penyelamatan keseimbangan ekologi.

Dalam wilayah environment, kita dapat membuka wacana tentang penyadaran akan merebaknya “polusi visual”, yang dalam hal ini erat berhubungan dengan masalah arsitektural dan tentu saja ‘landscape’ perencanaan tata ruang kota. Ecology, dalam hal ini dapat kita pandang ari perspektif enviromental (lingkungan), dimana sebuah desain dapat memposisikan dirinya dengan tidak merusak keseimbangan lingkungan, serta struktur dan komposisi serta landscape tata ruang dimana desain ditempatkan.  Misalnya pemasangan billboard atau beragam jenis papan reklame lainnya, yang tidak terorganisisr dan melalui perencanaan yang matang akan telah menimbulkan polusi visual yang semakin akut. Menjamurnya papan-papan reklame berukuran raksasa di pinggir jalan yang jumlahnya terus bertambah dan tak terkontrol, adalah salah satu bentuk polusi visual. Bahkan penempatannya sungguh tak pernah memperhatikan tata ruang kota, dan jika hal ini terus dibiarkan terjadi maka ketimpangan ekologi pun akan segera terjadi, karena perencanaan desain yang tidak mengindahkan lingkungan yang ada. Bahkan karena pengambilan keputusan yang ceroboh, pemasangan billboard yang tak ramah lingkungan dan tanpa disertai perencanaan yang matang sungguh dapat berakibat fatal, atau bahkan dapat menuai resiko yang merenggut nyawa (kasus robohnya billboard di kawasan Gondolayu, Yogyakarta (2001), yang hampir menimpa pemukiman penduduk di bawahnya). Jika keadaan seperti itu terus dibiarkan terjadi, maka secara tidak disadari kita telah membangun sebuah pemukiman baru yang hidup dalam sebuah “junk cities” yang dikonstruksi oleh elemen-elemen yang berupa junk design dan junk architecture yang telah membentuk suatu infrastruktur baru yang akut.

Bentuk enviromental design yang memanfaatkan tata ruang dan arsitektural kota yang lain adalah seni mural. Maraknya fenomena mural yang keberadaannya mengisi ruang-ruang publik yang kosong, seperti yang akhir-akhir ini marak di Yogyakarta sesungguhnya telah menjadi  semacam “karnaval” bagi imaji-imaji yang tentu saja ingin mengungkapkan sesuatu. Paling tidak visual yang telah mereka komunikasikan kepada publik Yogyakarta, telah menggugah kembali kerinduan akan identitas dan kelestarian ekologi (dipahami sebagai seni dan budaya) di Yogyakarta, yang secara tidak disadari telah dihancurkan oleh ‘bumerang’ yang bernama modernitas. Sebagai suatu proses intertekstualitas, keberadaan bangunan-bangunan yang menciptakan ‘blank-space’, merupakan bentuk dari teks lama yang tidak hanya berfungsi secara fisik (arsitektural) namun juga telah difungsikan secara ‘mediatif’, dengan menghadirkan karya-karya seni mural yang komunikatif. Dengan semangat “intertekstual”, kalangan seniman Yogyakarta telah melakukan suatu usaha yang cukup ‘radikal’ dalam merekonstruksi kembali simbol-sombol kesenian di Yogyakarta secara baru. Pemanfaatan ‘blank space’ sebagai media untuk menuangkan ide dan gagasan-gagasan baru dalam mengcounter ‘polusi visual”, yang selama ini terlihat semakin ‘carut-marut’ oleh aksi-aksi grafiti liar, yang lebih tepat dapat dikatakan sebagai aksi vandalisme. Atau mungkin oleh hadirnya berbagai macam poster-poster atau iklan-iklan yang mempromosikan produk tertentu yang saling ‘tumpang-tindih’ dan tidak terorganisir, yang hanya semakin memperkeruh keindahan kota saja.

Spiritualitas positif sangat kita butuhkan untuk menjaga keseimbangan ekologis yang semakin timpang ini. Dengan berkreativitas, kita bisa terus berharap dan berkeyakinan, bahwa  hidup kita tidak sekedar berada dalam suatu kondisi (ruang dan waktu), namun yang membedakan manusia yang berpikir dan tidak adalah bagaimana kita dapat mengambil sikap dan tindakan terhadapnya, dalam rangka korelasi terhadap masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Apa yang dapat kita aktualkan adalah dedikasi untuk mensikapi secara positif terhadap keterlibatan kita terhadap segala bentuk perkembangan baru yang sekaligus akan disertai dengan segala ketakterdugaannya, ketidak jelasan dan ketakdapatdiselesaikannya. Adalah benar, bahwa permasalahan keseimbangan ekologi tidak akan pernah menemukan penyelesaian, namun bagaimana kita dapat menemukan sebuah persepsi yang ideal terhadapnya. Kita meski lekas mencoba sebelum semua keterlambatan tidak lagi dapat menyelamatkan masa depan yang berkelanjutan. Let’s make the imaginative and ilustrative world become the characther of environmental friendly atau kita lebih memilih untuk menenggelamkan diri pada sikap fatalisme dan bersiap-siap menuju ke era “ecological suicide?”

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s