Posted on

GOOD DESIGN IS GOOD BUSINESS

“good design is good will…” – Paul Rand

Rand sebagaimana kita semua kenal adalah pakar dan salah seorang pelopor desain grafis modern di Amerika Serikat. kiprahnya sebagai pengarah seni, guru, penulis dan konsultan di bidang desain grafis dan komunikasi visual merentang selama tujuh dasawarsa serta ditandai oleh kreasi-kreasinya yang brilian di bidang periklanan, penerbitan dan corporate design. Bila dibilang bahwa buah tangannya di era 50an dan 60an membuka jalan bagi perkembangan desain korporasi yang diterapkan secara luas di dunia sebagaimana kita kenal dewasa ini.

Bila kita menghubungkan nama Paul Rand, desain korporasi dan era 50an, tak pelak lagi kita akan berpikir: IBM

Adalah Thomas J Watson Jr, ahli waris dan penerus International Business Machine Corp yang pada tahun 1955 merasa bahwa, sebagai perusahaan yang berada di garda depan perkembangan teknologi kala itu, IBM tidak memiliki “warna” dan “citra” yang kuat. Perusahaan yang dipandang memiliki sistem identitas yang modern dan menarik saat itu adalah Olivetti, pembuat mesin tik ternama yang berbasis di Milan, Italia. Secara umum, desain grafis modern memang telah lebih dahulu berkembang didaratan eropa sejak awal abad ke-20, dipelopori oleh pergerakan Avant-Garde didunia seni yang kemudian melahirkan aliran-aliran konstruktivisme di Rusia, De Stijl di Belanda dan Bauhaus di Jerman.

Pada pertengahan dasawarsa 1950an itu, IBM pertama kali disadarkan oleh kenyataan bahwa desain memiliki dampak langsung dan nyata terhadap bagaimana sebuah perusahaan “dipandang” oleh masyarakat luas – tidak hanya masyarakat pengguna jasanya – dan, pada gilirannya, berdampak pada keberhasilan kinerja perusahaan itu sendiri. bersama-sama Eliot Noyes, seorang arsitek dan konsultan industri serta kawan seperjuangannya semasa Perang Dunia II, Tom Watson Jr. kemudian mengerahkan segala daya dan upaya guna mengubah tampilan IBM agar dapat duduk sejajar dengan Olivetti. Mister Watson Jr. khusus terbang ke Milan untuk bertemu dengan Signore Adriano Olivetti, kala itu pemimpin dari sebuah perusahaan yang telah berhasil menerapkan good design mulai dari gedung kantor, ruang pamer, produk, brosur dan periklanannya.

Adalah Eliot Noyes yang kemudian memperkenalkan Paul Rand ke IBM, dan melalui kolaborasi selama lebih dari dua dasawarsa, turut mengawasi salah satu bentuk transformasi korporasi yang paling legendaris sepanjang masa. IBM tidak hanya berhasil mengubah citra dan warna sosoknya, namun juga berhasi mengubah kultur perusahaannya sejalan dengan perubahan citranya tersebut. Pada tahun 1975, tak pelak lagi, IBM dipandang sebagai perusahaan nomor satu dibidangnya, antara lain berkat mutu produknya, kepeloporannya, komitmennya dan tak kalah pentingnya adalah penampilannya.

Sejarah mengenai bagaimana IBM berhasil menerapkan corporate design sebagai salah satu kunci keberhasilan strategi usahanya merupakan cerita tersendiri yang tak akan habis dibahas. Konon kabarnya, kata “corporate design” itu sendiri lahir bersama upaya IBM tersebut dan diatribusikan kepada Paul Rand sebagai orang yang pertama kali menciptakan ungkapan itu.

Kini memasuki abad ke-21 dengan segala hiruk pikuknya, dunia mengenal desain korporasi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perusahaan modern yang tidak ingin tercampakkan dari persaingan global. Nama nama seperti Nike, Apple Computer, Bang & Olufsen, Mercedes Benz hanaylah segelintir brand yang seperti IBM, sangat mengerti akan daya tarik maupun pengaruh dari corporate design. Mereka tidak saja berlomba mengemas produknya dengan desain yang memukau (bandingkan desain komputer Mac dengan PC kebanyakan), tapi juga menjadikan desain sebagai unsur yang terpadu dan mampu menyatukan pesan visual utama yang ningin disampaikan oleh perusahaan tersebut. Maka, tanpa ragu sedikitpun perusahaan-perusahaan ini menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta dolar setiap tahunnya dalam menunjang desain korporasi mereka.

Apapun hasilnya sepadan dengan upaya serta biaya yang dicurahkan?

Beberapa riset ternyata mendukung investasi di bidang desain korporasi yang dikatakan berdampak langsung terhadap kinerja usaha. Sebuahn studi di Korea Selatan baru-baru ini oleh Seoul National University bahkan berani menyimpulkan bahwa, setidaknya di negeri itu, untuk setiap satu Dolar Amerika yang diinvestasikan dalam hal desain, penjualan meningkat $19. Di Kerajaan Inggris, The UK Design Council pernah membentuk “indeks desain” yang terdiri atas 63 perusahaan Inggris yang dipandang menerapkan corporate design secara efektif, dan membandingkan kinerja saham 63 perusahaan tersebut dengan indeks 100-saham FTSE (semacam indeks saham gabungan Bursa Efek Jakarta). Selama lebih dari 10 tahun,pertumbuhan indeks desain ternyata mengungguli pembandingnya sebesar 200 persen.

Berbagai hasil riset seperti ini dan banyak lagi yang mendukung nyatanya menfaat corporate design telah mendorong perusahaan-perusahaan kelas dunia untuk mengalokasikan sumber daya yang tidak kecil guna menunjang strategi desain mereka. tidak heran apabila belum lama ini kita mendengar Mercedes Benz menunjuk Giorgio Armani sebagai konsultan desain untuk turut memikirkan desain dan interior sedan Mercedes. Sebuah perusahaan kue dan makanan Perancis yang telah berdiri sejak abad ke-19 baru-barun ini membajak seorang Creative Director sebuah biro iklan ternama guna menjabat sebagai Chief Design Officer perusahaan makanan tersebut. Tanggung jawabnya mulai dari mengembangkan logo baru, mengubah citra ratusan toko kue dan restoran yang dimiliki perusahaan tersebut, hingga membantu para Chef dan juru masak menciptakan bentuk-bentuk kue dam makanan dengan desain, tampilan maupun kemasan yang telah menarik. Bayangkan waktu dan modal yang dihabiskan untuk semua ini.

Derap langkah desain yang pasti dan semakin terasa didunia korporasi ini juga tak luput dari perhatian kalangan akademisi. Di Massachussets Institute of Technology, misalnya program bisnis yang diajarkan di Sloan School of Management memiliki program multidisipliner yang memungkinkan mahasiswa dari berbagai latar belakang tehnik, pemasaran atau keuangan di MIT untuk berinteraksi dengan mahasiswa desain dari Rhode Island School of Design. Di University College, London, kini telah diupayakan pilot project untuk mengajarim mahasiswa tehnik maupun bisnis mengenai desain. Sementara dua sekolah bisnis top di Italia, Milan Polytechnic dan Bocconi University, memberikan pelajaran desain sebagai bagian dari kurikulum tetap mereka.

Agaknya, pemikiran dari sekolah-sekolah ini adalah semakin dini para calon eksekutif bisnis itu menarik eksposurterhadap nuansa-nuansa subtil sebuah desain, semakin mudah mereka akan terasimilasi dengan dunia desain yang kian terpengaruh dan menentukan di dunia bisnis belakangan ini. Mengingatkan kita pada motto: Good Design is Good Business

Tapi seberapa jauh kebenaran motto ini? Rasanya kita hanya perlu menarik pengalaman dari kegiatan sehari-hari untuk membuktikannya. Tidakkah kita selalu terkesima setiap kali kita menemukan desain yang menawan – sebuah rumah yang indah, misalnya atau mobil yang sleek dan elegan. Bila kita menonton film – apakah di gedung bioskop atau rumah – khususnya bagi mereka yang aware terhadap nuansa desain, kita merasa seperti “dijanjikan” sebuah film yang luar biasa apabila credit titles di awal film, tampil secara indah dengan jenis huruf dan tata letak yang menawan, diiringi musik dan efek suara yang serasi pula. Semuanya dirancang dan didesain secara rinci dan detail guna menangkap perhatian dan panca indera sang penonton. Dan bila (desain) itu berhasil, diharapkan penonton jatuh hati pada pandangan pertama.

Hal yang sama kita rasakan pada saat kita memasuki kantor bank, lobby hotel, restoran atau apa saja, serta melihat sesuatu  untuk pertama kalimya. Impresi pertama kita akan sangat menentukan penilaian kita terhadap produk atau perusahaan yang sedang kita kunjungi atau amati. Akankah kita kembali lagi? Bisakah kita mengingatnya kembali? Maukah kita mengulangi pengalaman kita..? Begitu banyak yang kiranya dapat ditentukan oleh corporate design semata.

Disarikan dari Dinki Pudijanto, principal media mark group. Concept edisi II

 

 

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s