Posted on

Pesta Pora Bernama Plagiarisme

Plagiarisme adalah telanjang secara tidak sopan di depan seorang buta yang sama jenis kelaminnya” -Kurt Vonegut, Gempa Waktu.

Isu-isu tentang plagiarisme, terutama dalam kerja kreatif hingga kini selalu menjadi pembicaraan yang terus menggoda, baik dalam taraf bisik antar telinga, diskusi, perdebatan, sampai urusan gugat-menggugat tentang hak cipta. Perkara ‘curi-mencuri’ ini, seolah tidak lagi menjadi sebuah “mimpi buruk”, namun ternyata fenomena ini telah menjadi hal yang ‘glamour’ dan ‘populer’ dalam proses kreatif , terutama dalam wilayah advertising, desain dan bentuk kerja seni komunikasi visual lainnya. Bersamaan dengan semakin populernya plagiarisme dalam wilayah ini, maka pemaknaan akan fenomena ini pun semakin berkembang dan mengalami pergeseran. Plagiarisme kemudian dipahami sebagai dejavu, kesamaan ide yang (tidak) disengaja, inspirasi, referensi, dan seribu satu macam argumen untuk menjelasakan duduk perkara tentang ‘curi-mencuri’ yang seringkali harus diselesaikan di meja hijau itu. Sesungguhnya pemaknaan-pemaknaan tersebut, bisa saja hanya sebagai ‘eufimisme’, yang tidak lain merupakan apologis/pembelaan diri dari seorang pencuri yang kebetulan tertangkap basah dan kemudian mengaku khilaf.

Banyak persoalan yang harus ditinjau kembali dalam situasi seperti ini. Persoalan tentang orisinalitas, copy right, kode etik, posisi serta hak seorang creator atas karyanya, terutama ketika berbenturan dengan realitas kultural (kontemporer) yang menyelubunginya. Sebagaimana kenyataan yang ditandai secara mencolok tentang kemerosotan kreativitas dalam wilayah seni, menuju ke arah budaya mengisi ‘keisengan’ yang bermuara pada komoditas dan pada akhirnya hanya tunduk kepada hukum konsumsi. Fenomena inilah yang sedang terjadi pada dunia industri, khususnya dalam pengertian budaya kontemporer  yang sering dianggap sebagai realitas postmodern, yang sedang mengharu biru teritori komunikasi visual. Dalam realitas seperti ini, perkara tentang orisinalitas tidak lagi begitu dipermasalahkan. Situasi seperti itulah yang seringkali disalahtafsirkan oleh para pekerja kreatif, yang kemudian dengan semangat yang terlalu naif menjalankan argumen bahwa meniru adalah sah-sah saja, tidak ada salahnya menjadi plagiator.

Sebelum lebih jauh lagi memperbincangkan  masalah plagiarisme ini, mari kita mencoba berempati terlebih dahulu terhadap gejala dan latar belakang maraknya fenomena ini. Jika kita coba untuk menengok kembali jauh ke belakang, polemik tentang ‘tiru-meniru’ ini sebenarnya telah dimulai sejak duaribu tahun yang lalu, tepatnya ketika Plato mengemukakan konsepnya tentang mimesis. Plato mengungkapkan bahwa karya seni adalah ‘mimesis’, peneladanan, pembayangan atau peniruan. Menurut Plato ide tentang mimesis terletak pada ide pendekatan dan efisiensi ide untuk meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam realitas dalam karya yang diciptakannya; lewat mimesis tataran yang lebih tinggi dapat disarankan.

Pendapat Plato, kemudian dilengkapi (atau lebih tepat disanggah) oleh muridnya, Aristoteles. Menurutnya seniman mencipta dunianya sendiri, dengan probability yang memaksa, dengan ketakterelakannya dalam keseluruhan dunia ciptaan itu, sekaligus oleh karena dunia itu merupakan kontraksi, perpaduan yang berdasarkan unsur-unsur dunia nyata, mencerahi segi dunia nyata tertentu. Pesan penting yang dapat kita tangkap dari sanggahan Aristoteles terhadap pernyataan Plato, adalah pembelaannya terhadap kinerja seniman. Sebagaii pencipta, seorang seniman tidak hanya semata-mata meniru apa yang telah ada dengan begitu saja, namun ia harus mampu melakukan sebuah kontraksi baru, menciptakan deskrpisi baru, pencerahan baru, memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada.

Pada era modern, konsep mimesis semakin  mengalami pergeseran, secara revolusioner, bersamaan dengan semakin maraknya perkembangan teknik reproduksi artistik .  Gejala ini telah digagas oleh Walter Benjamin , ‘martir’ dalam kebudayan kontemporer asal Jerman (Walter Benjamin pada usia yang ke-48 tahun, mengakhiri hidupnya dengan memasukkan morfin dalam dosis yang berlebihan ke dalam tubuhnya), ketika Ia mengemukakan bahwa seni modern adalah seni “post-auratic”. Benjamin berpendapat, ketika seni telah mengalami proses penggandaan secara teknologis, (direproduksi secara massal) maka seni akan kehilangan ‘aura’-nya, yang dipahami sebagai “fungsi kultus atau ritual dari karya seni”. Menurut Benjamin, dalam sejarah seni, karya seni tidak pernah memiliki status independen, sebab senantiasa terkait secara integral dengan  proses-proses integrasi sosial. Sejak zaman renaisans, telah terjadi sekularisasi masyarakat dan ancaman terhadap basis-basis ritual dan kultus karya seni, yang dalam perkembanganya masyarakat kapitalis telah memperlakukan karya seni sebagai’ komoditas (bdk. Hardiman, Kalam, edisi2- 1994). Keadaan ‘post auratic’ itu memungkinkan sesuatu yang lebih longgar dalam proses produksi ataupun distribusi dan konsumsi karya seni.

Post auratic’, menjadi titik terang untuk mengungkap peran fotografi dalam mempopulerkan seni imitasi. Sejak ditemukan pada 1839, fotografi telah membentuk sebuah sistem penandaan baru dalam bahasa komunikasi visual. Fotografi menjadi media yang paling menakjubkan bagi proses stereotype dalam perkembangan komunikasi visual. Stereotype, yang menurut Roland Barthes diuraikan sebagai kata yang diulang-ulang tanpa kekuatan magik, tanpa antusiasme sedikitpun; seolah-olah ada suatu mujizat yang membuat kata inii bisa dipakai berulang-ulang pada setiap kesempatan karena alasan yang berbeda; seolah-olah meniru tidak lagi dirasakan sebagai tiruan. Fotografi  memunculkan gejala ‘mass image’ atau ‘generalized image’, yang telah membangun dan mengoperasikan cara pandang serta konstruksi baru bagi manusia tentang dunia, ketika segala bentuk realitas telah ditransformasikan ke dalam ‘image’. (Semiotika Negativa – ST.Sunardi).

Dan kini sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi visual, fotografi telah diikuti oleh kehadiran TV dan internet yang semakin mempercepat terjadinya proses revolusi kebudayaan. Teknologi semakin memudahkan bagi siapa saja untuk mengakses segala macam informasi dengan kecepatan yang semakin tak terbayangkan. Realitas  ini semakin memperkuat argumentasi bahwa teknologi ikut berperan dalam proses ‘reproduksi’  dan ikut mengobarkan  maraknya perayaan ‘pencurian ide’ yang berakhir pada plagiarisme. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendownload image di internet dan dengan berbekal kehebatan dalam memanipulasi disana-sini, setiap orang bisa langsung mempublikasikannya sebagai karya hasil proses (rekayasa) kreatif nya. Kebohongan tersebut akan berjalan mulus, ketika publik tidak sempat mengakses atau tidak peduli pada image yang kita curi. Contoh lain juga sering terjadi pencurian ide (image) dengan seenaknya dari sebuah buku / magazine (yang tidak semua orang mengetahui) dan dengan sedikit manipulasi memindahkan dalam media baru sebagai karya kita.

Kegalauan tentang memudarnya ‘aura’ dalam karya seni merebak pada dekade 60-an, yang ditandai dengan munculnya gerakan baru dalam gerakan seni rupa, termasuk desain komunikasi visual, yang kemudian dikenal dengan POP ART. Sebagai gerakan baru dalam dunia seni, Pop Art telah mengukuhkan kedatangan era baru yang mendobrak batas-batas yang berlaku sebagai pembeda antara seni tinggi (high art) dengan seni popular (yang dipahami sebagai ‘seni murahan’). Sebagai sebuah gerakan yang tidak lagi mensakralkan keluhuran karya seni, Pop Art melegalkan keberadaan karya-karya imitasi dan reproduksi seni. Pop Art menandai sebuah gerakan seni yang berbasis pada popular culture atau kebudayaan massa yang identik dengan wilayah konsumerisme. Idiom-idiom yang sering digunakan dalam gerakan ini banyak mengadaptasi ikon-ikon dari budaya populer.  Gerakan ini menjadi simbol yang signifikan untuk merepresentasikan pendapat bahwa ketika karya seni telah mengalami proses reproduksi, maka secara otomatis ia telah menjadi  bentuk  budaya massa. Karya-karya Picasso atau  Van Gogh sekalipun, ketika telah mengalami reproduksi, akan menjadi bagian dari budaya massa dan tidak ada bedanya Mickey Mouse atau kaleng Coca-Cola dalam realitas kontemporer.

Sebenarnya bagi seorang desainer, inspirasi atau refernsi dalam wilayah kerja kreatif adalah sah-sah saja. Akan tetapi, sejauh manakah ‘orisinalitas’’ dapat dipertanggungjawabkan dalam hal ini? Adakah ketentuan, kategori atau etika khusus yang membatasi aksi ‘klepto’ yang tengah lakukan lakukan? Banyak argumentasi dikemukakan oleh kaum plagian dalam membela karya-karyanya sebagai buah ide dan hasil kreativitasnya. Poin-poin tentang kesamaan ide, ilham, inspirasi, referensi atau apapun dalam hal ini, harus menjadi titik tolak bagi kecerdasan seorang desainer dalam mensikapi sesuatu yang telah mempengaruhinya. Sejauh mana desainer dapat mengolah hal-hal tersebut menjadi sebuah konsep baru, sudut pandang baru, kesegaran ide serta pencerahan baru dalam karya yang dihasilkan.

Dalam situasi semacam ini, yang diperlukan oleh semua pekerja kreatif adalah kreativitas, kejenialan, fantasi, fiksi, halusinasi, nostalgia, keliaran imajinasi, serta cerdas dalam berpikir (rasional/irasional) tentang bagaimana kita harus mensikapi pengaruh yang datang dalam proses kreatif nya. Sungguh menyedihkan, jika seorang desainer yang telah melakukan kebohongan publik dengan mempublikasikan  karya curian, bersikap congkak dan dengan  tidak merasa berdosa sama sekali merayakan kemenangan darinya.

Realitas konsumsi (baca.kontemporer) telah memiliki standar estetika tersendiri, yang terkadang dipahami terlalu naif oleh sebagian para pelaku kreatif dengan mengesampingkan kejenialan ide, termasuk orisinalitas. Plagiarisme akan semakin merebak, ketika telah didukung oleh mekanisme pasar dengan segala macam bentuk tipu muslihatnya, yang salah satu bentuknya adalah memberikan penghargaan pada karya yang sungguh-sungguh ‘plagiat’. Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa di negeri yang miskin ide ini plagiarisme telah merambah ke segala wilayah kesenian. Tidak ada lagi ruang yang tidak dijelajahi oleh kaum plagian ini. Mulai dari musik, film, sinetron, iklan, program TV, novel, drama, bahkan skripsi sampai kebijakan pemerintahpun tidak ubahnya sebagai karya plagiat. Dengan kondisi seperti ini, tidak ada salahnya, jika kita perlu menambah kosakata baru dalam predikat negeri ini : Republik Plagiat.

Sebagai pekerja kreatif yang berpikir cerdas, selayaknya kita tidak perlu pesimis dalam menghadapi situasi plagiarisme yang ‘acak-adul’ dan penuh ‘tipu muslihat’ ini. Segala sesuatu bisa menjadi sebuah inspirasi, jika kita mampu mensikapi dan mengolahnya dengan talenta  serta berpikir secara cerdas. Bahkan mencuri pun akan membiaskan sebuah estetika baru, jika kita mampu menyuguhkan sebuah sensasi dan ‘taste’ baru terhadap sesuatu yang telah kita curi. Untuk mengubah inspirasi (kalau tidak ingin dikata: mencuri ide), menjadi sebuah karya yang memiliki cita rasa orisinalitas, kita harus jeli dalam melakukan sebuah permainan tanda-tanda. Kita rekonstruksikan tanda-tanda yang dapat dicerap oleh indera kita, untuk menciptakan sebuah bentuk karya baru yang aktual dan berbeda.

Berikut ini adalah beberapa bentuk estetika baru hasil permainan tanda dari pensikapan yang cerdas terhadap ‘pencurian ide’ (meminjam dari Amir Piliang –hiper-realitas kebudayaan):

1. Pastiche, karya yang disusun dari elemen-elemen yang diambil dari berbagai karya lain yang sudah ada terlebih dahulu (bisa dibayangkan sepertii photomontage). Sebagai karya yang mengandung unsur-unsur pinjaman, patische tentu saja memiliki konotasi negatif sebagai miskin kreativitas, orisinalitas, keontetikan dan kebebasan. Pastiche benar-benar merupakan bentuk imitasi teks-teks masa lalu, dalam rangka mengapresiasikan dan menginterpretasikan dalam bentuk yang baru.

2. Parodi, gaya ini juga merupakan salah satu bentuk seni imitasi. Sebuah bentuk (baru) dari karya yang sebelumnya pernah ada, yang dihasilkan sebagaii sebuah kritik, sindiran, ‘plesetan’ atau lelucon dari bentuk, format atau struktur karya yang menjadi rujukan. Keutaman dari sebuah karya parodi adalah bertemu atau berinteraksinya dua teks (karya) dalam bentuk dialog.

3. Kitsch, gaya ini sering ditafsirkan sebagai ‘sampah artistik’ atau ‘selera rendah’ (bad taste). Keberadaan kitsch sangat bergantung pada keberadaan gaya dari seni tinggi, yang dalam struktur artistiknya akan membentuk elemen-elemen gaya, yang menurut Eco disebut ‘stylemes’.  Nah kitsch, dalam hal ini mengaktualkan diri sebagai salah satu bentuk seni imitasi Kitsch sering didefinisikan sebagai simulasi, copy atau stereotip dan segala bentuk seni palsu (pseudo art): sebagai pemiskinan kualitas pertandaan yang menyiratkan miskinnya orisinalitas, keotentikan, kreativitas dan kriteria estetik.  Produksi seni kitsch lebih didasarkan pada tujuan memasalkan seni tinggi sebagai efek dari reproduksi dalam sistem kebudayan massa.

4. Camp, menurut Susan Sontag, camp adalah satu model ‘estetisme’, salah satu cara memandang dunia sebagai satu fenomena estetik, namun bukan dalam pengertian keindahan atau keharmonisan, melainkan dalam pengertian kesemuan atau pengayaan. Sebagai bentuk dari seni imitasi, camp merupakan jawaban dari ‘kebosanan’ terhadap struktur yang telah ada. Camp menawarkan jalan keluar yang bersifat ilusif dari kedangkalan, kekosongan dan kemiskinan makna dari kehidupan modern. Camp mengisi kekosongan makna ini melalui sensasi dalam bentuk ketidaknormalan dan ketidakorisinilan. Camp dicirikan dengan upaya-upaya melakukan sesuatu yang luar biasa dan mengungkapkan sesuatu dengan cara yang berlebihan.

Analogi yang diungkap Kurt Vonegut, bahwa plagiarisme ibarat telanjang dengan tidak sopan di depan orang buta, sangat tepat untuk mendefinisikan aktivitas plagiarisme.  Semua orang buta tidak pernah tahu bahwa karya kita adalah karya curian, tetapi tidak semua orang buta, dan jangan sembarangan untuk telanjang dengan tidak sopan didepannya, karena nanti borok dekat kemaluannmu akan ketahuan. Dan awas kamu bisa dimeja hijaukan dengan tuntutan milyaran rupiah hanya karena telanjang di depan orang (yang tidak buta). Dan ketika seorang kawan datang dan mengingatkan bahwa bahasa sehari-hari adalah sebuah usaha plagiat, karena ia memakai kata-kata yang merupakan temuan seseorang dan tak pernah ada royalti untuknya, maka ketika menuliskan artikel inipun aku sendiri menjadi curiga pada diri sendiri, jangan-jangan tulisan inipun merupakan sebuah bentuk plagiat ? atau mungkin sekedar degradasi kerja individual saya pribadi? MARI BERSAMA MERAYAKAN PLAGIARISME!!

epilog : “hidup di zaman edan: sopo ora edan ora keduman

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s