Posted on

OBEY GIANT ‘Phenomenology Propagandart’

“Investigate and deconstruct everything because a person and the simplified symbol they have become aren’t always the same thing”  –Shepard Fairy-

Tidak ada sesuatu yang menarik secara visual, ketika melewati sebuah jalan yang membelah UGM, tepatnya kawasan lembah, sebelah timur fakultas Filsafat dan Hukum. karena segala sesuatunya hampir sama setiap harinya, selain bus shelter yang selalu dihias publikasi yang saling berebut perhatian. Sampai beberapa bulan yang lalu, kira-kira pertengahan Maret, saya terpaku pada satu pemandangan yang tidak biasa. Devider di tengah jalan yang biasanya dilanggar itu telah ditempeli beberapa poster hingga memenuhi hampir seluruh permukaannya. Sebuah poster berwarna hitam putih dan merah bergambar raut muka bertuliskan OBEY di bawahnya.  Ingatan saya langsung tertuju pada gerakan yang dipelopori seorang designer grafis lulusan Rhode Island School of Design, Shepard Fairy. Pemandangan yang membuat saya terhenyak sesaat, memaksa saya untuk berpikir ada apa , bagaimana, mengapa, …sampai beberapa saat saya ‘blank’…lalu saya dikejutkan oleh umpatan klakson mobil dari arah yang berlawanan…ya saya langgar devider jalan itu. Gerakan yang diawali secara kebetulan oleh Shepard Fairy ini menjadi sebuah fenomena baru dalam dunia design. Berbagai kontroversi muncul atas fenomena seni avant garde atau beberapa  menyebutnya sebagai seni ‘kekonyolan’. Bagi penganut Marxisme mungkin fenomena ini adalah sesuatu yang haram, mengingat segala sesuatu yang dihasilkan dari gerakan ini sama sekali tidak membawa pesan (setidaknya secara implisit) apalagi yang mengarah ke seni bertendensi (untuk pembebasan kelas). Tetapi terlepas dari itu setiap hasil karya dari gerakan ini seperti mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi, menarik perhatian, bahkan menghipnotis untuk melakukan atau memikirkan sesuatu yang kita tidak benar-benar pasti apa itu. Seolah-olah setiap gambar yang terpampang adalah hal yang sangat penting, sehingga mengharuskan kita untuk paling tidak melihatnya selama beberapa saat.

Salah satu ciri pada kebanyakan seni postmodern terdapat pada awal gerakan ini. Obyek yang dipakai pada mulanya adalah dari hasil ‘temuan’ Shepard di sebuah suratkabar yang memuat iklan dengan gambar seorang pegulat profesional dengan tinggi tujuh kaki empat inci, berat limaratus dua puluh pound, Andre ‘the Giant’. Struktur wajah dan tatapan mata Andre diyakini Shepard mempunyai kekuatan sebagai obyek yang sempurna dan tak ada matinya untuk dipakai sebagai dasar karya grafis. Dari situ ia dan seorang temannya membuat stensilan dan stiker dengan gambar ‘Andre the Giant has a posse’, yang ditempel di berbagai tempat strategis dan menarik perhatian. Diluar dugaan, ternyata setiap orang yang melihatnya dibuat penasaran dan bertanya-tanya tentang apa sebenarnya semua gambar tersebut. Banyak stiker-stiker yang hilang dari tempat asalnya ditempel dan berpindah ke topi, mobil, dan papan skate. Mulai saat itu (1989) Shepard yang menyadari sebuah peluang untuk merubah opini sosial tentang obyek visual, mengajak beberapa temannya memproduksi stiker dan poster lebih banyak dengan berbagai macam variasi, juga t-shirt. Keuntungan dari penjualan t shirt ia pakai untuk membuat stiker, stensil dan poster lebih banyak lagi, begitu dan seterusnya hingga sekarang.. Cara penyebaran stiker dan poster yang massif tersebut sebenarnya tidak dilakukan oleh Shepard sendiri. Ia selalu membagi-bagikan stiker dan poster kepada teman-teman, untuk selanjutnya ditempel di seluruh tempat dikota bahkan luarkota atau malah luar negeri. Selain itu ia memberikan instruksi dan cara untuk mengcopy gambarnya dengan gratis, dan memberikan sentuhan atau modifikasi sendiri sesuai dengan apa yang diinginkan. Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah poster yang pernah dibuat dan ditempelkan di berbagai tempat di seluruh dunia.

Pada awalnya fenomena ‘Andre The Giant’ memunculkan berbagai kontroversi, sebenarnya poster dan stiker tersebut adalah iklan, kampanye, atau propaganda. Sebagian besar masyarakat menangkapnya sebagai hal yang biasa dalam dunia publikasi, dimana setiap hal yang ditujukan untuk dilihat dan dinikmati oleh publik selalu mewakili suatu hal tertentu atau bertendensi pada kepentingan seseorang atau lembaga tertentu. Padahal dalam kampanye ini, sesuatu yang dikampanyekan tidak jelas. Ada yang beranggapan bahwa hal itu adalah kampanya politik, grup band, iklan papan skate, atau bahkan sekte aliran baru.  Hal inilah yang membuat Shepard berhasil memberikan ‘shock therapy’  terhadap opini masyarakat yang selama ini berlaku konvensional. Ia melakukannya hanya karena iseng tanpa ada maksud atau pesan tertentu untuk disampaikan secara verbal. Ia tidak dipusingkan oleh muatan apa yang harus dan ingin ia sampaikan lewat manifestasi karyanya tersebut. Justru hal inilah yang menarik, ketika makna selalu ditampilkan dengan cara verbal yang memanjakan sekaligus mengkotakkan pikiran setiap orang; Shepard justru melakukan sebaliknya. Makna dari suatu hal dapat kita dapatkan dari reaksi kita terhadap hal tersebut. Dari setiap poster dan stiker yang tanpa muatan apapun dapat mempunyai berbagai arti tergantung dari tempat dimana kita berada ketika kita melihatnya. “Rekreasi visual” adalah keyword-nya. Sebenarnya kampanye yang dilakukan oleh Shepard merupakan eksperimen fenomenologis, yang disebut Heidegger sebagai ‘the process of letting things manifest themselves’, terhadap reaksi sosial atas apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Sebab tujuan pertama dari fenomenologi adalah untuk membangkitkan rasa ingin tahu atau kepedulian terhadap lingkungan seseorang.

Keabsenan makna atau pesan dalam gambar (poster, stensil, dan stiker) tadi menjadi semacam pukulan terhadap kultur pasif konsumtif masyarakat yang selalu mengharapkan sesuatu yang verbal dari setiap hal. Kita sebenarnya bebas untuk melakukan apa saja tehadapnya, pro/kontra bahkan cemooh dan hinaan bebas kita lakukan selama apresiasi bisa memicu kepedulian terhadap apa yang terjadi di  sekeliling kita dan muncul dialog-dialog aktif positif tentangnya. Kini wajah Andre the Giant tidak saja menjadi poster dan stiker tanpa makna, tetapi sudah menjadi ikon propagandis yang fleksible untuk beberapa subkultur. Dengan tambahan embel-embel ‘OBEY’ yang dicuri dari federasi wrestle  WWF, kampanye Shepard secara psikologis mempunyai dua arah yang saling berlawanan. Bagi seorang yang konservatif, sebuah gambar Stalin atau tokoh lain dalam dunia politik disertai kata ‘obey’ merupakan kampanye politik yang kental, ditambah dengan pemilihan warna merah hitam dan putih yang sangat identik dengan komunis. Padahal pemilihan warna hanya dikarenakan oleh masalah teknis dan estetis visual belaka. Kampanye yang lebih bersifat parodi ini merefleksikan kebalikan dari  apa yang disampaikan (obey), Shepard menyebutnya sebagai ‘Reverse Psychology’. Bagi yang sudah pernah melihat poster atau stikernya, ‘obey’ bisa berarti ‘obey’ (patuh), juga bisa berarti ‘disobey’ (tidak patuh).  Kedua hal yang saling bertentangan ini biasanya mewakili dua golongan sosial yang saling beroposisi dalam berbagai hal. Bahkan mungkin saling membenci.

Bagi mereka yang mengartikannya sebagai ‘obey’, biasanya tahu tentang latar belakang sejarah gambar, ikon atau warna yang ditampilkan pada gambar, dan rata-rata mereka membencinya karena mereka menganggap sebagai media propaganda komunis, neo NAZI, sekte aliran baru, atau hal-hal lainnya yang negatif dan radikal. Sebaliknya, mereka yang menyukai kampanye tersebut, disebabkan oleh: pertama, karena mereka tahu kalau golongan yang tidak mereka suka (golongan atas) membenci kampanye tersebut, kedua karena pengetahuan mereka yang kurang tentang sejarah sumber inspirasi Shepard, sehingga mereka mengira kampanye tersebut adalah kampanye tentang grup band punk, merek papan skate, atau bentuk graffiti baru, ketiga karena masifnya gerakan ini, sehingga membuat mereka tertarik untuk ikut menjadi bagian di dalamnya, sekalipun mereka tidak tahu tentang apa sebenarnya gerakan ini selain ketertarikan mereka pada desain grafis poster, kaos, dan stiker yang sering juga menampilkan gambar tokoh-tokoh idola, seperti Andy Warhol, Martin Luther King, Che Guevara, Emilianio Zapata, Angela Davis, Jam Master Jay, Public Enemy, Henry Rollins, Sid Vicious, Joseph Stalin, Jesse Jackson, dan banyak lagi. Gambar-gambar yang biasa dipakai Shepard meliputi elemen propaganda sejarah,  ikon popculture, parodi kekuasaan, dan ‘black power’ sebagai simbol untuk mendekonstruksi kekuatan visual yang dipadukan dengan kata-kata provokatif, yang secara emosional berpotensi untuk mendoktrinasi atau bahkan menipu. Reaksi yang bermunculan bermacam-macam, baik yang pro maupun kontra. Mulai dari merusak atau merobek, menambahi dengan kata-kata makian, sampai melaporkan pada pihak yang berwajib dilakukan oleh yang merasa terganggu dengan keberadaan poster-poster dan stiker itu. Golongan reaksioner seperti ini selalu bereaksi tanpa pikir panjang terlebih dulu. Satu poin lagi yang ingin disampaikan Shepard yaitu kebiasaan untuk berpikir terlebih dulu sebelum bereaksi terhadap sesuatu. Akibat ulah para pelapor yang paranoid karena pola pikirnya sendiri tersebut. Shepard sempat menginap dalam bui beberapa kali.

Reaksi pro dan kontra ini sangat tinggi intensitasnya, mengingat  media yang dipakai sebagai perantara antara Shepard dan publik adalah ‘jalanan’itu sendiri. Siapa saja dan dari golongan apa saja bisa langsung mengapresiasi seni grafis propaganda Shepard, tanpa harus membayar atau mengunjungi galeri tertentu. Sebab lautan gambar, simbol, ikon, dan pesan adalah ‘jalanan’. Shepard lebih memilih jalanan sebagai ‘galeri’ untuk memamerkan karyanya, karena rumah seni atau galeri seni hanyalah sebuah kolam atau danau semata, bukan lautan bagi artis yang banyak terinspirasi oleh Andy Warhol, Dave Arron, Phil Frost, Arron Rose, Twist, Mike Mills, Adam Wallcavage, Misha Hollenbach, dan Ken Sigafoos ini. Ditambah peran internet, ‘jalanan’ Shepard sekarang telah mendunia hingga ia sendiri tak tahu pasti seberapa banyak karyanya diakses dan disebarluaskan oleh publik. Hingga muncul banyak shepard-shepard baru, dan gerakan menjadi semakin besar dan besar.   Sekali lagi yang perlu di garis bawahi adalah bahwa gerakan kampanye ini lebih bermaksud untuk menstimulasi rasa ingin tahu dan membuat setiap orang bertanya-tanya, sehingga mencoba menghubungkan kampanye tersebut dengan keadaan di sekitar mereka. Eksistensi kampanye propaganda ini memancing setiap orang untuk bereaksi, berkontemplasi, dan mencari makna dari setiap poster atau stiker tersebut. Di lain pihak keabsenan makna dari setiap poster dan stiker tersebut justru malah merefleksikan pribadi dan sensitifitas individu yang bersangkutan, terhadap lingkungan sekelilingnya. Kembali ke fenomena ‘OBEY’ di Jogjakarta (atau juga telah merambah kota-kota lain ?) mungkin Shepard pernah datang  atau shepard-shepard lokal yang melakukan kampanye tersebut. Tetapi mengapa devider jalan, mengapa pintu rel kereta api (atau entah tempat apa lagi yang akan dipenuhi gambar-gambar ‘OBEY’)? Mungkin kampanye tersebut satu anjuran untuk lebih mematuhi rambu-rambu lalu lintas, untuk lebih melanggar, atau bisa juga tanpa alasan tertentu. Terserah kita untuk memaknai dan menyikapinya. Cobalah untuk terus menginterpretasi manifestasi tersebut, karena makna yang anda dapatkan adalah pencerminan dari siapa dan bagaimana anda sebenarnya. Di samping itu, kita hanyalah sebuah ‘tabula rasa’ dan kadang kita butuh sebuah reflektor untuk sekedar tahu kira-kira siapa kita sebenarnya.

FENOMENA GERAKAN OBEY GIANT MELIPUTI:

LEBIH DARI 1.000.000 STIKER DI SELURUH DUNIA

LEBIH DARI 15.000 POSTER

RATUSAN STENSILAN ‘PYLOX’

MEDIA CETAK :

SLAP, WARP, PAPER, HYPNO, AXCESS, THRASHER, ADBUSTERS, JOURNAL, NY TIMES, NY POST, MANHATTAN MIRROR, JUXTAPOZ, PROJECT X, WIRED, URB, ART ALTERNATIVES, SWING, FILM THREAT, POP SMEAR, ENDANGERED SPECIES, CREATIVE REVIEW, SOMA, FRIDGE, STRENGTH, SPORTSWEAR INTERNATIONAL, BOSTON GLOBE, PHILADELPHIA CITY PAPER, TRANSWORLD SKATEBOARDING, SUBCULTURE, INTERNATIONAL TATTO ART, NOTORIOUS, LOWDOWN, RAYGUN, DSB…

MUSIK :

THE SPECIALS, BAD RELIGION, THE JON SPENCER BLUES EXPLOTION, THE FUGEES, THE GRIFTERS, THE UNSANE, HOUSE OF PAIN, THE BOUNCING SOULS, DSB…

PAMERAN :

THE ALLEGED GALLERY NYC, THE HOLY SOLOMON GALLERY NYC, THE THREAT WAXING SPACE NYC, THE NEW MUSEUM OF CONTEMPORARY ART NYC, THE COOPER HEWITT DESIGN MUSEUM NYC, 407 GALLERY NYC, BALTIMORE COLLEGE OF ART, RHODE ISLAND SCHOOL OF DESIGN, WORKHORSE PRODUCTIONS BALTIMORE, SPACE 1026 PHILADELPHIA, ARMY ST. ART SPACE SAN FRANCISCO, RENEGADE GALLERY PROVIDENCE, SANTA BARBARACONTEMPORARY ARTS FORUM, DIRT GALLERYKANSAS CITY, CBGB’S GALLERY NYC, TERRAINSAN FRANCISCO, DSB…

FILM DOKUMENTASI :

MUSEUM OF MODERN ART NYC, YERBA BUENA FOR THE ARTS SF, LINCOLN CENTER NYC, SUNDANCE FILM FESTIVAL, NY UNDERGROUND FILM FESTIVAL, CHICAGO UNDERGROUND FILM FESTIVAL, WALKER ART CENTER NYC, DSB…

FILM & ACARA TV

BATMAN FOREVER, HURRICANE STREET, THE DEVIL’S OWN, 8MM, PETE&PETE, VERONICA’S CLOSET, TAXI CAB CONFESSIONS, SUBWAY STORIES, HOMICIDE, LAW&ORDER, THE OSBOURNES, DSB.

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s