Posted on

New Dimension of: “Organic vs Synthetic Materials”

the most exciting attractions are between two opposite that never meet” -Andy Warhol-

Pada suatu malam sehabis mengunjungi pameran yang diadakan oleh seorang teman lama, kami (saat itu ada lima kepala) terlibat dalam diskusi yang cukup ‘serius’ di suatu café yang bernuansa “grunge” di salah satu ruas jalan di Yogyakarta. Urusan yang akhir-akhir ini semakin tidak ngetrend dan jauh dari kepedulian semangat generasi muda: kepedulian tentang keseimbangan “ekologi”. Kemudian kita sepakat untuk menjadikan perbincangan tersebut menjadi panjang dan bertele-tele, ketika salah satu diantara kami ada yang bersedia mentraktir kopi sejauh kami kuat ‘melek’ dan terus berbincang. Ide dan gagasan yang terepresentasikan dalam karya-karya yang dipamerkan oleh teman kami tersebut, sesungguhnya memang sangat menarik untuk dijadikan perbincangan yang berkepanjangan. Apalagi menyangkut kepedulian kreatif anak muda tentang keseimbangan ekologi… yeah..  “It’s gonna be one hell of the night…

Sebenarnya ide awal yang melatarbelakangi karya-karya yang dipamerkan yang menyebabkan perbincangan kami menjadi panjang lebar, yaitu tentang penggunaan material sintetis dalam setiap konstruksi karya-karyanya. Teman kami lebih memilih untuk menggunakan material sintetis, seperti cat acrylic, plastik, aluminium, glass, sampai metal, yang sangt bernuansa industri untuk merepresentasikan ide dan gagasan tentang desain yang ekologis dan ramah lingkungan. Ada beberapa diantara kami yang sepakat dengan ide tersebut. Dengan alasan pemilihan material tersebut jelas lebih awet dan ‘tahan lama’, lagipula kita tidak mungkin lagi untruk mengelak  kehadiran material-material tersebut yang memang telah menjadi bagian sehari-hari dalam kehidupan kita. Namun selalu ada pula pihak yang menjadi oposisi diantara kami, agar setiap perbincangan selalu  menjadi panjang-lebar, melelahkan dan sekalgus menggairahkan.

 Seperti biasa, pasti ada satu diantara kami yang selalu ‘iseng’, untuk melemparkan sebuah ‘ilustrasi’ yang setelahnya akan meletupkan perbincangan yang ‘berapi-api’ dan menguras energi. Malam itu, ilustrasi yang dimunculkan adalah seperti ini:

Sebenarnya dalam era modern seperti ini, dimanakah letak “efektivitas” antara penggunaan material organic atau material sintetis, terutamna dalam merepresentasikan karya desain yang ecologis? Bukankah ketika kita menggunakan material organik sebagai media berkarya (misalnya kayu, dsb, selain harganya mahal dan persediaannya semakin langka,  berarti kita juga harus menebang pohon dan sebagainya. Padahal jika karya yang kita bikin banyak peminatnya, dan kemudian menjadi komoditi, bayangkan coba berapa banyak kayu harus dibutuhkan dan bayangkan akibatnya jika daur kesinambungan yang terjadi tidak seimbang. Berarti kita juga merusak keseimbangan ekologi ? Di sisi lain penggunaan material sintetis yang dikatakan tidak “ramah lingkungan” dengan berbagai efek yang ditimbulkannya, justru malah sangat mudah didapatkan, harga terjangkau, perawatannya lebih mudah dan tahan lama. Dan blah-blah-blah !! dan seterusnya.

Obrolan dimulai dengan ilustrasi singkat di atas, kemudian berkembang biak menjadi perbincangan yang sungguh-sungguh sangat menguras energi.

Sesungguhnya, pengalaman baru seperti apakah yang didapatkan dalam perdebatan seperti ini?  Satu hal yang pasti, sebagai sebuah “brainstorming”, momentum seperti ini sungguh sangat diperlukan. hal-hal yang mungkin saja ‘sepele’ seperti ilustrasi di atas, justru akan menjadi sangat krusial dan merangsang hadirnya inspirasi yang marak. Hal yang sesungguhnya dipertentangkan dalam situasi seperti ini, ‘polemik’ antara penggunaan material organic (beberapa menyebut sebagai traditional materials) dan penggunaan material sintetis, mungkin saja dapat dianggap ‘remeh-temeh’. Dua materi yang banyak memunculkankan situasi yang saling kontradiktif. Sekarang coba kita renungkan “realitas” macam apa yang sesungguhnya tengah terjadi di sekeliling kita.

Ada beberapa alasan yang cukup masuk akal  dipaparkan oleh salah satu diantara kami (yang kami menyebutnya beraliran synthetizme..). Dia beranggapan bahwa di zaman yang serba “pop” seperti sekarang ini, kayaknya mengada-ada kalau kita masih maksain diri untuk kembali pada penggunaan material-material organis. Bahkan dengan opini yang bernada pesimis, dia bilang bahwa produk-produk yang me-‘label’-kan dirinya sebagai ekologis  sebenarnya hanya strategi bisnis dan omong kosong!! Buktinya berapa masyarakat kita yang mampu ngebeli produknya (yang memang harganya tak terjangkau itu). Dan konsumen yang mampu membeli produk mereka pun hanya kalangan atas dan selebritis yang tetap saja menganggap standar kecantikan itu adalah cewek yang bertubuh bla..bla..bla..,dsb. Dan akhirnya yang ngimbas ke publik hanya citra, status dan lagi-lagi lagi ke urusan konsumerisme dan “gengsi-gengsian” semata. Dengan panjang lebar, dia bilang kalau kita ingin membikin sebuah kesadaran ekologis kepada publik, ya semestinya kita realistis saja dengan situasi yang ada. Kalau kita memang kesusahan mencari sumber daya alam yang sudah langka, maka tidak ada salahnya, jika kita menggunakan material sintetis. Bukankah ‘mereka’ lebih mudah didapatkan, terjangkau harganya dan yang pasti awét dan tentu saja tahan lama ? Yang kita butuhkan di sini adalah bagaimana kita mengontrol penggunaannya dan bagaimana kreativitas kita memanfaatkan media yang ada untuk mengkomunikasikan suatu penyadaran kepada masyarakat.

Giliran salah seorang yang menganut aliran “organis” kini angkat bicara. Dia mengungkap pengalamannya, tentang suatu ketika di bilangan Nitiprayan, Yogyakarta diadakan sebuah pameran yang bertajuk  “…………” (dia lupa..), kira-kira pada paruh pertengahan tahun 2002. Pameran yang (menurutnya) dapat dikatakan sebagai bentuk dari sebuah aksi penyadaran tersebut, semestinya harus sering-sering diadakan. Karya-karya yang dipamerkan disana, banyak mengeksplorasi penggunaan material ‘organis’, terutama bambu. Hampir seluruh karya memanfaatkan material bambu sebagai media untuk menuangkan ide dan gagasannya. Uniknya galeri yang digunakan untuk memajang karya-karya yang berbentuk instalasi tersebut adalah di tengah persawahan. Ada sebuah karya yang berbentuk keong dan  berukuran relatif  besar tersebut dapat langsung bermanfaat bagi masyarakat sekitar atau para petani misalnya memanfaatkan untuk sekedar berteduh melepas lelah. Sungguh menjadi sebuah rancangan desain yang ekologis. Namun sayang implementasi yang terjadi pada masyarakat sekitar tidak berlangsung lama. Namun sebagai sarana untuk memperkenalkan kembali (atau lebih tepatnya mengingatkan) pada estetika dan fungsional dari penggunaan material organik yang seakan semakin dilupakan oleh masyarakat, adalah sangat efektif.

Sebenarnya kalau kita mau menoleh pada karya-karya tradisional di sekitar kita, banyak kita temukan karya-karya yang bernuansa “ecodesign”. Seperti tikar pandan, “Ekrak”  (serok sampah yang terbuat dari bamu), bronjong, caping, tembikar dan tak terhitung banyaknya karya-karya tradisional yang sudah merepresentasikan semangat ekologis. Atau dari desain ‘packaging’, kita bisa melihat ‘bésék’ (kemasan yang fungsinya kini digantikan dengan ‘kardus’), kreneng (yang biasanya untuk bungkus salak pondoh) atau rinjing (untuk bungkus bunga ‘ziarah’) dan masih banyak lagi bentuk desain kemasan yang sesungguhnya sangat ekologis. Akan tetapi mengapa “produk-produk” tersebut kini semakin langka dan seakan menghilang dari pasaran ? Hal tersebut menurut Samuel Indratma (ilustrator dan perupa yang tingal di Yogyakarta) dalam sebuah wawancara dengan Blank!, mengemukakan bahwa semakin menghilangnya ‘benda-benda’ tersebut, lebih dikarenakan apresiasi masyarakat terhadapnya yang semakin pudar. Masyarakat justru lebih menganggapnya hanya sekedar hasil kerajinan ‘marjinal’, sebuah kerajinan yang terpinggirkan. Masyarakat sekarang, bahkan sama sekali tidak memperhatikan “kadar” ecodesign yang dimilikinya produk-produk tradisional tersebut. Menurutnya, kelemahan yang dimiliki oleh masyarakat kita adalah sikap apresiatif yang masih rendah. Masyarakat kurang mampu menghargai produk budaya-nya sendiri. Ia memperbandingkan dengan: mengapa setiap produk luar negeri selalu menjadi lebih menarik? karena mereka mempunyai kemampuan untuk mengemas sesuatu menjadi ‘menarik’ dan ‘prestise’. Bisa kita bayangkan, jika sebuah tas yang terbuat dari bambu di desain secara menarik, tentu saja orang akan beralih dari penggunaan plastik, dan berganti menggunakan tas bambu. Atau dalam hal seperti ini, kita memang harus menunggu orang ‘luar negeri’ memulai dan mencuri ide dan kekayaan kreativitas budaya tradisional kita yang sudah ada sejak zaman antah berantah?

Mungkin satu diantara kita berada di dalam salah satu wilayah di dalamnya. It’s ok… tak ada yang perlu dirisaukan dengan hal tersebut, sejauh itu merupakan sebuah pilihan yang benar-benar kita sadari. Yang jadi poin penting sekarang ini  adalah bagaimana kita dapat menginformasikan apa yang kita hasilkan kepada masyarakat ke dalam aplikasi yang efektif dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Bagaimana kita bisa memberikan angin kesadaran baru bagi masyarakat yang pola pikir dan perilakunya telah sedemikian rupa terpola oleh industri ‘modern’ yang semakin tak memperhatikan keseimbangan ekologi? Hal tersebut dapat menjadi sebuah pertaruhan dan tanggung jawab kita, agar ide dan gagasan yang kita miliki tidak hanya sekedaar buntu dalam tataran konsep dan sekedar masrturbasi belaka. Bagaimana caranya kita dapat merepresentasikan sebuah ‘elegi’ baru, yang mungkin akan terlahir ketika kita mempertemukan antara elemen-elemen yang saling kontradiktif, namun mampu menghadirkan suatu keharmonisan baru. Ataukah untuk sebuah argumen tentang kebebasan bersikap dan ‘pluralitas’, kita berhak menentukan mana yang lebih efisien tentang penggunan “organic” dan “synthetic” untuk mewujudkan utopia masing-masing?  Its ok, sama-sama asyiknya, seperti yang pernah di paparkan oleh Andy Warhol: “the most exciting attractions are between two opposite that never meet”.….

Tiada terasa, satu per satu diantara kami tak dapat lagi menahan kuap dari mulut masing-masing. Dan rupa-rupanya kamipun telah mulai mengantuk. Ketika speaker yang dipasang dibawah meja terdengar ‘fake plastic trees’-nya Radiohead, tiba-tiba pletookk, seekor tikus yang ‘sial’ remuk tergilas mobil yang baru saja melintas. Ahh, andai saja si supir ‘tau’ atau mungkin saja supirnya terlalu lelah dan mabuk, atau entahlah sepertinya tidak semua orang perlu tahu urusan orang lain, apalagi ketika jam tiga dinihari seperti ini. Dan kami masih saja sempat menertawakan kesialan yang baru saja menimpa ‘sang tikus’. Sebuah ‘ketololan’ baru telah terjadi dan aaaahh…. Memang proses kreatif seringkali meski disertai oleh sebuah ketololan,……kini saatnya kita bergerak….

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s