Posted on

Modus Operandi & Paradoks Realitas Kontemporer

‘‘Mereka yang tak ingin meniru apa pun, ia tak akan menghasilkan apa-apa”  –Salvador Dali (1904-1989)-

Pada sebuah era yang sering disebut sebagai pasca-modern ini, aktivitas plagiarisme sudah tidak dapat lagi dipandang sebagai sekedar aksi “curi-mencuri”, yang seringkali tanpa disertai argumentasi yang jelas disikapi sebagai aktivitas yang ‘tidak sehat’. Dalam era “globalisasi”, ketika segala informasi bisa didapat dengan mudahnya, membuka kesempatan yang sangat luas bagi para aktivis plagiat untuk melakukan aksinya. Seseorang akan dikatakan sebagai plagiat atau epigon atau imitator, jika ia meniru atau melakukan sesuatu yang tidak lebih sama dengan seseorang yang menjadi panutannya, entah itu terwujud dalam karya, style, gayahidup atau bahkan pola pikir atau hal yang bersifat filosofis. Akan tetapi apakah peniruan-peniruan itu akan selalu berkonotasi negatif dan harus selalu disikapi sebagai sebuah “dosa”?   Salvador Dali, pelukis beraliran surealisme itu pernah mengemukakan sebuah aforisme yang sungguh mengandung sebuah ambiguitas dalam aktivitas plagiat: “mereka yang tidak ingin meniru apapun, ia tak akan menghasilkan apa-apa”. Jika kita kaitkan dengan persoalan tentang plagiarisme yang kini semakin marak dirayakan ini, ”Ambiguitas” yang tersirat dalam pernyataan dali tersebut, seolah menjadi sebuah ‘nujum’ bagi siapa pun yang beraktivitas sebagai ‘kreator’ dan menghadapkan mereka pada situasi yang paradoksal ketika berhadapan dengan realitas dalam dunia modern.

Tidak bermaksud untuk melakukan pembelaan atau penghakiman kepada para aktivis plagiat, saya akan memaparkan beberapa “modus operandi” dan situasi yang menjadi latar belakang bagi maraknya fenomena plagiarisme. Tulisan ini akan berusaha untuk memahami realitas yang tengah berlangsung, bahwa maraknya fenomena plagiat telah menjadi salah satu wujud dari ambiguitas yang muncul sebagai bias arus modernitas. Fenomena plagiat adalah salah satu bentuk jejak kaki yang diciptakan oleh langkah yang tergesa dari arus modernitas dalam perjalanannya menyusuri gurun pasir peradaban. Jejak-jejak itulah yang kita jadikan sebagai acuan untuk mengungkap beberapa ‘modus operandi’ yang melatari maraknya fenomena plagiarisme yang telah menjadi bagian dari krisis modernitas. Plagiarisme, disadari atau tidak keberadaannya adalah sebuah paradoks baru yang diciptakan oleh “kemewahan” yang bernama modernitas.

Salah satu pencapaian besar di era modern adalah dalam hal realisasi dan ‘komersialisasi’ seluruh aspek dunia, dengan mengubah apa pun menjadi komoditi, menjadi informasi, menjadi tontonan, menjadi berita, menjadi produk yang bisa diekspos dan dijual. Ketika desain grafis telah merambah ke dalam wilayah ‘commercial graphics’, maka desain pun tidak dapat mengelak dari arus yang membawanya menjadi sebuah fashion dan membentuk sebuah gaya yang dalam sistem komoditi telah membuka diri bagi terjadinya manipulasi seni dalam sebuah proyek besar  yang bernama “kebudayan industri”. Dalam situasi seperti ini, kemudian yang terjadi adalah sebuah fenomena, ketika desain telah terkait, diperbaharui dan dimanfaatkan oleh keinginan pasar, sesuai dengan keinginan pemodal di bawah sebuah payung besar yang bernama trend. Pada fase ini, sebuah desain tak ubahnya bagai siklus perputaran fashion. setiap orang merasa perlu untuk selalu memperbarui dirinya melalui gaya-gaya baru. Hal tersebut adalah sebuah konsekuensi logis, ketika desain grafis telah bermetamorfosa menjadi fashion. Dalam perputaran ini, ketika desain telah menjadi parameter, menjadi “lifestyle” maka ia telah berperan sebagai ‘penanda budaya’ baru, yang akan selalu mengalami perubahan secepat fenomena mode dan laju media massa.

Kondisi tersebut menciptakan situasi paradoks yang pertama. Sesungguhnya siapakah yang menciptakan trend desain? terlepas dari peran besar seorang mentor desain, trend sesungguhnya adalah bagian integral yang tak terpisahkan dari strategi mekanisme pasar. trend akan muncul secara otomatis ketika perputaran modal tengah berlangsung. Trend muncul ketika dalam mekanisme pasar peran seorang desainer dan keinginan konsumen (pasar) saling merespon. desainer akan merepresentasikan keinginan pasar yang cepat berubah, desainer harus selalu melakukan ‘brainstorming’ untuk mengobati kejenuhan pasar dengan menciptakan gaya-gaya baru dan segar. Ketika pasar merespon gaya baru yang diberikan oleh desainer, maka akan segera terjadi sebuah pembalikan kehendak, yaitu desainer juga yang akan mengikuti kehendak pasar. Dalam aras dunia global seperti sekarang ini, peran antara desainer dan konsumen telah membentuk sebuah proses yang sinergis. Batas antara sebab dan akibat sungguh menjadi begitu nisbi, siapa yang meniru dan siapa yang ditiru menjadi semakin kabur, ketika hal yang krusial bukan lagi masalah kebaruan/orisinalitas melainkan kelangsungan perputaran modal.

Sebagaimana pernah diungkap oleh Nirwan Dewanto (senjakala kebudayaan), bahwa posisi romantik seorang seniman telah berakhir. ia tidak lagi menyandang peran kenabian yang bertugas menyucikan dunia. Meminjam ungkapan nirwan tersebut, dalam tulisan ini subjek seorang ‘seniman’ coba kita pahami sebagai seorang ‘desainer’, yang notabene juga berperan sebagai seorang pencipta (desain). Kejayaan seorang desainer telah usai, posisi romantik-nya untuk menyucikan dunia telah berakhir. Berakhirnya ‘era romantic’ tersebut, dapat kita tafsirkan sebagai  bias dari semakin ‘hiruk-pikuk’-nya laju industri kebudayaan. Bias yang ditimbulkan dari situasi semacam ini, akan berpengaruh kepada proses “kebebasan kreativitas” bagi seorang pelaku kreatif. Kondisi seperti itulah yang oleh Nirwan kemudian dikatakan bahwa “otonomi seni” seorang pelaku kreatif tidak lagi netral, tidak datang begitu saja dari individu seorang pelaku kreatif, namun sangat terkait erat bahkan telah dimanfaatkan oleh industri kebudayaan. Seorang desainer seringkali terjebak pada percepatan produksi dan reproduksi yang diinginkan oleh pasar, ketika sesuatu yang baru akan segera dibuat menjadi ‘usang’ oleh gaya-gaya baru yang segera menggantikannya. Godaan akan ketergesaan inilah, yang berdampak pada pencapaian kreativitas seorang desainer yang cenderung seadanya, tergoda pada budaya banalitas yang kemudian menenggelamkan diri pada aktivitas plagiarisme.

Paradoks yang kedua, adalah ketika desain grafis dihadapkan dengan Industri budaya “broadcasting” yang semakin didukung oleh perkembangan teknologi elektronik, informasi dan media massa yang yang bisa diakses ke seluruh penjuru dunia. Dalam arus informasi yang menglobal ini, ruang yang tersedia untuk melakukan apresiasi terhadap segala macam bentuk budaya, segala macam bentuk kebaruan semakin terbuka luas. Di sini tercipta suatu ‘demokratisasi’ dunia citraan dalam semangat dunia modern. Kehadirannya bisa dimana saja, yang dan dengan kecepatan yang tak terbayang akan segera dicerap dan mengendap dalam benak masyarakat modern sebagai sebuah antologi citraan-citraan yang tak ada habisnya. Ketika dunia maya sebagai ruang imaji telah menjadi sangat transparan dan tak lagi mengenal sekat-sekat pembatas ruang dan waktu, setiap orang memiliki kebebasan untuk meniru dan mengcopy apapun diinginkannya. Dalam sekejab mata kita dapat langsung dibombardir oleh kehadiran tanda-tanda, imaji-imaji, benda-benda yang dengan secepat itu pula kita kita dapat mencurinya. Keterbukaan yang sungguh menggoda ini pula, yang pada akhirnya akan mengaburkan, bahkan meleyapkan standar etika, moralitas atau bahkan kode-kode etik tentang copy right. karena di negeri ini memang tidak ada badan sensor atau hukum yang pasti untuk menghentikan arus aktivitas ini.

Komunikasi dan informasi telah menciptakan orbitnya sendiri dengan beraneka ragam bentuk satelit-satelitnya. Kehadiran media elektronika: tv atau internet menjadikan komunikasi semakin berubah fungsi dari media penyampaian pesan dan makna, bergeser menjadi sebuah ekstasi, perayaan tanda-tanda, imaji-imaji. perayaan yang disampaikan oleh media komunikasi begitu menggoda bagi siapa saja untuk meniru, dan semakin membuka lebar (pintu) peluang bagi kita untuk memasuki lingkungan (kreatif) budaya manapun.  Sungguh sangat terbuka kemungkinan bagi kita untuk memalsukan, memindahkan, mengadaptasi dan merayakan menjadi (kreativitas) budaya milik kita.  Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi inilah yang kini sedang menjadi ‘modus operandi’ yang sangat populer bagi kalangan aktivis plagiarisme.

Mediamassa, televisi atau internet sungguh telah menjadikan aktivitas plagiarisme menjadi sebuah kenyataan yang paradoksal. Ketika teknologi telah mempersilahkan kita untuk mengakses kebudayaan di dunia manapun dalam kecepatan yang sungguh tak terbayangkan. Siapa tidak tergoda pada dunia virtual yang serba transparan dan tidak segan-segan untuk membukakan auratnya tepat di depan mata. Globalisasi informasi telah menjadi sebuah paradoks, ketika ia telah membuka peluang bagi terjadinya pengembangbiakan, pelipatgandaan, reproduksi, imitasi dan segala macam bentuk wajah dari plagiarisme terhadap segala macam wajah produk budaya apapun.

Paradoks yang ketiga adalah bias dari bertemunya wilayah kreatifivitas dengan segala macam kemewahan yang semakin melimpah ruah yang ditawarkan oleh realitas dunia modern, yaitu ketika wilayah proses kreatif telah berkolaborasi dengan teknologi dan segala bentuk komodifikasi. Teknologi memberikan kesempatan bagi terbukanya ruang-ruang ide baru, yang sangat memungkinkan terjadinya segala bentuk eksperimentasi kreatif. Segala kemungkinan yang memberikan kesempatan bagi terciptanya sebuah bentuk kreativitas baru telah dieksplorasi secara habis-habisan.  Situasi seperti ini, kemudian mendatangkan sebuah momentum yang oleh Baudrillard dianalogikan sebagai: “tidak ada lagi kebaruan, semuanya telah dijelajahi dan batas terjauh dari segala kemungkinan telah tercapai. apa yang tersisa kini adalah puing-puing. apa yang tersisa untuk dilakukan, adalah bermain dengan puing-puing tersebut”. Analogi yang disampaikan baudrillard telah mengabarkan sebuah  “ironi” yang dihasilkan oleh modernitas, yang juga telah mengharu biru dalam wilayah seni (desain) kreatif. Pada fase inilah situasi paradoksal benar-benar menghinggapi seorang pekerja kreatif. di satu sisi desainer selalu dituntut untuk membuahkan hasil karya yang menawarkan kebaruan dan orisinalitas, dan di sisi lainnya ia harus menghadapi wacana bahwa segala bentuk kebaruan telah habis dijelajahi.

Pendapat Baudrillard memang mengacu pada kondisi “postmodern”, yang dipahami sebagai akhir (kebuntuan = kematian) dari modernitas, yang hanya menyisakan ruang kreativitas yang berupa puing-puing belaka. Paradoks yang terjadi, adalah ketika segala kebaruan telah habis dijelajahi, maka yang dapat dilakukan hanyalah bermain-main dengan cara meminjam, mengadaptasi, mengulang, mereproduksi, mengimitasi terhadap sebuah kebaruan yang sebenarnya telah menjadi usang. Aktivitas plagiarisme menjadi sebuah kenyataan yang sungguh paradoksal. dalam situasi seperti ini, ketika tidak ada lagi aktivitas yang dapat dilakukan selain memutar otak secara kreatif, dan menciptakan permainan jenial terhadap segala sesuatu yang telah menjadi puing-puing yang tersisa.

Sebagai catatan akhir dalam artikel ini, dapat ditemukan sebuah argumen bahwa fenomena plagiat dalam dunia global seperti sekarang ini bukan lagi sekedar aktivitas “curi-mencuri” ide semata. Aktivitas plagiat adalah sebuah fenomena, sebuah paradoks yang dimunculkan oleh bias dari modernitas, yang di dalamnya terdapat realitas yang sangat kompleks. Kita boleh optimis atau pesimis dalam menghadapi kenyataan global sarat dengan segala bentuk imitasi yang tak terhindarkan ini. sebagaimana pendapat Albert Camus, “bahwa dalam realitas industri akibat yang diberikan adalah bahwa zaman kita lebih menjadi zaman reportase daripada zaman karya seni”. Lalu bagaimanakah peran dan sikap yang harus dijalankan oleh para desainer dalam mensikapi fenomena plagian ini? dalam hal ini “tidak ada jalan keluar”, there is no exit : kecuali berpikir kreatif dan terus maju berjalan.

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s