Posted on

Memoar dari Jeruji Penjara Ndangdut

Tiba-tiba tubuhku lebam. Serasa seperti terhisap oleh aliran yang sangat kuat, pekat, gelap (sungguh gelap). Ketika semua berubah dengan sedemikian rupa cepatnya. Seingatku aku seperti ditampar oleh locomotif dengan sembilan gerbong yang sarat  muatan ketika musim hari raya tiba. GedubRRaakkkzz!! Yang sungguh secara tiba-tiba datang ketika aku sedang menguap, dengan rasa kantuk yang sedemikian hebat menyergap, ketika mata belum sempat terlelap (atau mungkin) terlalu lama terlelap dan belum sempat terjaga.

Leonardus Supratman !

Leonardus supratman !

Leonardus Supratman !

Entah mulut siapa lagi yang mengeluarkan suara yang benar-benar tidak nikmat didengar itu…… ah mendingan aku diam saja, toh mending juga memanjakan mata yang memang disergap kantuk yang memang luar biasa nikmat ini.

Leonardus Supraatmaaaad!! asli belepotan suaranya, terpaksa aku menyahut juga. Menjawab suara yang sama sekali tidak berwibawa dan sungguh-sungguh tak pantas untuk mengeja namaku itu. Namun suara yang sungguh-sungguh buruk rupa itulah yang pada akhirnya menyadarkannku. Menemukan diriku terkulai dalam ruang sempit 3×4 yang gelap, pekat dingin dan sangat pengap.

Bangun dengan tubuh setengah dan nyawa setengah. Barangkali bukan setengah, sebab yang kurasakan tinggal kepala dan itupun terasa sangat berat. Sedang tubuhku telah dicuri oleh bangsat dan entah telah dijual murah kepada siapa. Pening teramat pening, seperti habis digebuki segerombolan polisi anti huru-hara yang habis disuntik ribuan milli cairan adrenalin.  Sekujur ruang disekelilingku kutemukan tembok-tembok yang penuh corat-coretan. Pada wallpaper yang telah mengelupas itu tertera tulisan-tulisan aneh (grafis-grafis yang aneh ini justru sekejab mengerjab, menyeringai, menyapa dan mempesonakanku). Itulah mengapa aku bilang aneh, ajaib bin aneh, tulisan-tulisan kampungan itu benar-benar mempesonakan dan sangat menginspirasikannku. Tetapi apa dayaku sekarang ini, tolong kau katakan padaku “apa daya” yang harus aku lakukan, atau apa yang kau lakukan jika berada dalam situasi seperti ini. Atau mungkin saja kamu belum tahu dimana diriku saat ini. Aku ada di balik terali besi saudara-saudara, dalam sebuah tempat yang mungkin disebut-sebut orang sebagai penjara. (kabarkan kepada teman-teman semua, bahwa Om Leo kini berada di penjara) Oh aku teringat penjara,seperti mengingat tommi suharto, Johny Indo, akbar tanjung (yang sampai sekarang belum dipenjara juga), bob (hasan) si napi badung, slamet gundul, atau sholeh (alias regel, kawan sma-ku) yang nakalnya bukan main itu dan sederet napi-napi bergengsi lainnya, oh tentu saja Mickey and Mallory…..yap Entah, mengapa Tiba-tiba saja aku jadi teringat David Bowie…..

dan ingat panggil aku Om Leo, sebagaimana klien dan kawan-kawanku, juga cewek-cewek selalu memanggilku. Kamu ingin mengenal lebih jauh tentang siapa diriku, nanti akan kuceritakan kepadamu.

Sehari sebelum penculikan itu (aku selalu mengatakan penangkapanku adalah sebagai penculikan) karena ketika aku memaksa (mereka) polisi-polisi yang membawaku untuk menunjukkan surat penangkapan, mereka tak mampu menunjukannya. Yang jelas waktu itu aku baru saja terima fee dari order besar, mendesain iklan sebuah produk milik company raksasa (sebuah pekerjaan gampang dan dibayar setinggi langit) yang baru saja aku rampungkan. Sebagai seorang desainer, untuk sebuah negeri yang sungguh miskin akan ide ini, aku termasuk desainer yang beruntung dan (paling) laku. Kau perhatikan saja mulai dari pamflet-pamflet pameran seni rupa, clubbing, konser musik (asal bukan ndangdhut lho), iklan-iklan di majalah, di koran-koran, disanalah desain-desainku banyak mendominasi dalam persaingan (dalam sebuah negeri yang sungguh miskin ide ini). Sebagai seorang desainer karirku tidak terlalu berliku-liku, bahkan terkesan sangat ‘mulus’. Segala sesuatu dapat aku jalani dengan sangat mudahnya, kuliahku di institut seni terkemuka di negeri ini kuselesaikan dengan waktu yang singkat. Setelah itu banyak berdatangan tawaran bea siswa kuliah ke luar negeri, tetapi tidak ada satupun yang membuatku tertarik. Lagian mengapa meski aku jauh-jauh sekolah ke luar negeri , karena cukup di sini saja aku bisa kaya, karya-karyaku laku keras dan klien akan saling berebutan untuk melakukan “deal” denganku. Begitu mudah bagiku. Segala sesuatu memang terasa mudah untuk manusia cerdas dan kreatif seperti diriku ini (apalagi di sebuah negeri yang sungguh miskin akan ide ini).

Semua orang memanggilku Om Leo, entah siapa dulu yang memulai menambahkan embel-embel kata Om di depan namaku yang seksi itu. Banyak versi yang beredar tentang kata ‘Om’ yang menempel dengan manja di depan namaku itu. Ada yang menganggap sifat “playboy”-ku lah yang membawa predikat Om itu kepada diriku. Ada sebagian kawan yang bilang bahwa tampangku mirip dengan muka milik Om Liem yang konglomerat itu (kalau dilihat dari ‘sari-club’ kali). Dan yang paling menjengkelkan dan bikin dongkol hati adalah kata kawan-kawanku yang bilang bahwa wajahku (terutama style-ku) dianggap oleh mereka terlalu “ndangdhut” banget, padahal sumpah mati aku sungguh benci sama aliran musik  yang satu itu. Bahkan aku pernah dipanggil ‘domba’ (atau Leo abidin domba) kurang ajar sekali bukan? Karena mereka  bilang wajahku yang terlalu sentimentil dan ndangdhut banget itu kemudian mereka memberikan gelar OM=Orkes Melayu di depan namaku (yang sebenarnya sudah cukup macho) sebagai LEO saja. Ahh, tetapi pada akhirnya aku tidak terlalu pusing memikirkan mitos-mitos yang berkemabnag di seputar namaku itu, toh malah terdengar semakin seksi saja.

Tiap malam aku menyempatkan diri untuk clubbing (kecuali malam jum’at kliwon tentu saja) karena ada urusan yang jelas lebih penting, meskipun harus berkorban semalam tanpa clubbing. Yah! Bagaimana lagi, sebagai seorang hedonis tentu saja aku gemar dengan urusan-urusan seputar “dugem” dan mabuk (bukan mabuk-mabukan). Menurutku tidak ada salahnya kita mabuk, asal tidak merugikan negara. Bahkan seringkali setelah mabuk aku akan segera berkarya untuk negara (he..he.. huuueeee). Apalagi kalau sudah menghisap mariyuana, (kesukaaanku memang Cuma “minum” dan mariyuana). Kalau sudah menghisap mariyuana rasanya nikmaaaat sekali. Kamu bisa ngebayangin rasanya, misalnya seperti ini: Bayangin aja  rasanya ketika kamu telah disergap rasa nguantuk yang sedemikian rupa hebatnya, tiba-tiba pacar kamu iseng ngulik-ulik kuping kamu. Bayangin aja rasanya, pasti geli-geli campur nguantuk+nikmaaaat”.

Pada suatu ketika, dinihari sekali kira-kira jam dua lebih empatpuluhdua menit, tiba-tiba datang beberapa orang bertubuh tegap (atau bajunya yang terlalu ketat) datang menculikku. Mereka mengaku dari jajaran reserse dan mengatakan bahwa diriku adalah pengedar ganja!! (kurang ajar, ngapain aku meski ngedarin ganja, aku bisa kaya raya dengan menjual desain di negeri yang sungguh muiskin ide ini). Mereka akhirnya memang benar-benar membawaku ke penjara, setelah menemukan stock-ku yang lumayan banyak (sekitar dua “kilo”) dalam lemariku. Aneh, bagaimana mereka bisa tahu tempat tinggalku yang terpencil seperti ini? Padahal aku juga tidak pernah melakukan hal-hal yang ceroboh untuk kegemaranku yang satu ini, ahh pasti ini ada yang menjebakku. Pasti!!

Tak apalah, toh aku masih harus bersyukur karena diberi keselamatan (sing penting slamet mbah) dan lingkungan yang benar-benar menyenangkanku. Menyenangkan? Mungkin saja kamu menganggap aku sudah gila, ketika mengatakan hidup di penjara itu sungguh menyenangkan. Setelah kira-kira satu bulan lebih tigapuluhsembilan hari setelah aku menjalani vonisku yang empat tahun lamanya, aku segera membabat habis rambutku (yang dulu oleh kawan-kawanku dibilang “gondrong ndangdhut” itu). Kemudian aku bergaul dengan rono(gayeng), romli, yono, yusuf, ratman ,lik samad, mbah suki, marzuki, kawid dan banyak lagi nama-nama lainnya yang ternyata semuanya sungguh ramah dan baik hati tersebut. Memang ada juga rombongan dari blok E yang preman-preman dan beberapa brengos sering berkeliaran masuk ke blok-ku. Tetapi mereka semua baik , ramah dan sopan kepadaku, entah mengapa begitu (aku tidak tahu). Atau mungkin aku selalu bermurah hati ketika menawarkan rokok kepada mereka? Aku tidak pernah ambil pusing . Mereka semua juga memanggilku dengan Om (aneh bagaimana mereka bisa tahu). Mari Om Leo tambah lagi sambelnya, Om Leo saja yang menjadi ketiua kelompok, Om Leo saja yang memimpinm musyawarah, Om Leo saja yang ini, yang itu… Om Leo kan berpendidikan tingga (bangsat bagaimana maereka bisa tau) padahal aku selalu mencoba menutupi identitasku, namun pada akhirnya semua bisa cair dan berjalan biasa-biasa saja.

Pertama-tama aku memang menemui hal-hal tersulit yang harus dihadapi: pertama, aku tidak bisa clubbing tiap malam (kecuali malam jum’at kliwon, karena ada urusan yang lebih penting, meskipun berkorban satu hari tanpa clubbing). Kedua, berarti aku sepenuhnya tidak dapat mengaktualkan predikat “famous international playboy”-ku. Ketiga, berarti juga aku tidak mungkin lagi mendengar David Bowie, dan harus mendengar lagu-lagu ndangdhut (yang sumpah mati sungguh aku membencinya itu). Namun apa dayaku benci pada akhirnya menjadi rindu, wiwiting tresno jalaran soko kulino, tak kenal maka tak sayang dan ungkapan-ungkapan usang itu-pun pada akhirnya menghinggapiku juga. Bagaimana tidak, dalam selku yang berisi delapan orang itu hanya ada satu radio, dan aku pun harus bertoleransi kepada mayoritas 99% yang setuju untuk selalu memutar lagu-lagu ndangdhut di radio buthut itu (muoodarr aku). Tak pernah aku habis berpikir, bagaimana semua ini akan berpengaruh pada reputasiku, pada seleraku, pada proses kreativitasku, pada ideologiku, pada idealismeku, dan pada pertanggungjawabanku terhadap desain-desainku yang telah menjadi mainstream, menjadi trend setter dalam dunia grafis dii sebuah negeri yang sungguh miskin akan ide ini. Bullshit!!  aku tidak pernah peduli lagi terhadap omongkosong-omongkosong semacam itu.

Pengalaman hidup di balik jeruji besi memang telah mengubah caraku dalam memandang dunia, terutama sangat berpengaruh dalam proses kreatifku. Aku mulai banyak bercerita tentang duniaku kepada teman-teman baruku di dalam penjara (tentu saja sambil menikmati alunan ndangdhut dalam radio buthut). Mereka tercengang, campur kaget dan heran ketika tau bahwa yang memasang gadis-gadis setengah telanjang (lagi pura-pura mandi) sambil ngiklanin sabun mandi pada baliho-baliho besar di pinggir-pinggir jalan itu adalah aku. Mereka heran dimana aku kenal dengan mereka, bagaimana aku dapat menggambar mbak-mbak itu ketika telanjang dan mereka juga menuduh akau telah melakukan hal-hal cabul dengan mbak-mbak yang memang indehoooi tersebut.

Mendengar opini-opini yang mereka kemukakan, rasa-rasanya aku seperti tercerabut dari alam bawah sadarku… oh ternyata begitu tak terbayangkan olehku sama sekali sebelumnya, tentang persepsi orang-orang awam terhadap karya-karyaku. Bahkan ada beberapa kawanku ini, seperti yusuf, ratman, romli dan marzuki (banyak lagi orang di penjara ini) mengaku pernah (bahkan sering) melampiaskan fantasi seksual-nya dengan iklan-iklan yang aku buat di koran. Dan ternyata di penjara inipun, ada beberapa yang mereka simpan, mereka tempel di dinding layaknya poster bintang porno dan menjadi koleksi mereka (dan sering diajak ke kamar mandi) oleh mereka untuk berfantasi, mengembara dalam dunia ilusi. Namun bukankah menciptakan ilusi itu sah-sah saja, sebagimana kreativitas seringkali muncul dan memiliki keterkaitan erat dengan ilusi. Toh tidak ada yang melarang kita untuk percaya kepada ilusi sebagaimana kita percaya pada takdir.

Yap takdir, aku mempercayainya sebagaimana aku mempercayai kepada ilusi-ilusi yang terlalu sering aku ciptakan sendiri. Aku terpenjara seperti sekarang ini mungkin juga karena takdir, yang aku ciptakan sendiri sebagai konsekuensi logis yang aku terima ketika aku menciptakan ilusi-ilusi dengan mariyuanaku. Yap aku bisa menjadi seorang desainer tenar dan menjadi kaya seperti sekarang ini mungkin juga telah menjadi takdirku, sebagaimana fantasi khayaliku semasa kecil yang tetap saja ingin menjadi orang terkenal (dan kaya tentu saja). Dan sekarang tiba-tiba saja aku bertemu dengan mereka (masyarakat ndangdhut) ini juga merupakan sebuah takdir, yang mungkin merupakan implementasi dari ilusi-ilusi-ku yang selalu kutolak kedatangannya. Sebagaimana ketika aku menolak “deal” dengan klien-klien kelas ndangdhut sepanjang karirku sebagai seorang desainer.

Bagaimana aku meski bersyukur dengan segala karunia yang kumiliki, seolah tidak pernah ada cobaan yang berarti sepanjang umur karirku. Bagaimana aku tidak harus berterima kasih (entah kepada siapa) terhadap kenyataan-kenyataan yang selalu terwujud, sebagaimana aku merekonstruksikan ilusi-ilusi-ku menjadi sebentuk kenyataan yang sangat aku cintai ini. Dan siapa sangka aku dapat menemukan konsepsi-konsepsi gila, yang pada akhirnya merubah segala macam omongkosong-omongkosong tentang konsep, segala macam omongkosong tentang tentang idealisme, profit, equilibrium, politik dagang, komunikasi, konsumerisme, fethisisme, estetika, budaya massa, parameter, mainstream, yang pada akhirnya hanya akan berujung pada persoalan masturbasi ini. Segala sesuatu yang dulu pernah berbusa-busa aku omongkan bersama teman-teman seprofesiku, aku gembar-gemborkan setinggi langit kepada klien-klienku, kini menjadi mentah semua dalam lingkungan seperti yang aku hadapi kini. Tidak akan ada artinya semua itu dalam dunia masyarakat ndangdhut yang hanya tau goyang, ejakulasi dan merana ini.

Pada suatu ketika, dinihari sekali kira-kira jam dua lebih empatpuluhdua menit (malam yang ke232 hari) ketika habis menghisap mariyuana (meski di penjara toh kegemaranku yang satu ini “aman-aman” saja), di dalam ruang yang semakin terasa nyaman dan akrab ini, ketika seperti biasanya aku tidak pernah tidur di malam hari, tiba-tiba muncul sesosok “biang” ndangdhut terkemuka: Jaja Miharja. Kedatangannya begitu menghantui imajinasiku. Memang seh, beberapa hari yang lalu aku sempat tercengang ketika mendengar salah satru larik dalam lagunya (walaupun madonna cantik, marylin monroe juga cantik), pikirku wah gila juga nih madonna dan marylin monroe hidup dalam dunia ndangdhut. Padahal belum pernah ada musisi lainnya (di negeri yang sangat  miskin akan ide ini) yang berani mengajak simbol seks di era 60-an atau bintang pop janda sean pean itu ke dalam wilayah lagu-lagu mereka, tapi ndangdhut malah mesra menggaulli mereka dengan goyangannya. Apakah ini bukan sesuatu hal yang revolusioner? Tetapi tidak ada sesuatu apapun yang revolusioner di sini, dalam masyarakat ndangdhut yang hanya mengenal goyang, ejakulasi dan merana ini. Apakah yang harus aku lakukan dengan sosok Jaja Miharja yang secara tiba-tiba menyergap imajinasiku ini? Apakah “beliau” benar-benar telah menginspirasikanku, apakah meski kini aku merubah idealismeku dan menggantinya dengan goyang irama ndangdhut? Aku mencoba untuk membayangkan predikat naruku nanti, sebagai Om Leo sang desainer ndangdut atau Om Leo ndangdhut designers dan komentar wah ini gayanya Om Leo nih, ndangdhut banget!! Persetan dengan segala macam predikat dan atribut yang akan mereka jejalkan kepadaku. Toh aku yakin aku juga akan tetap berkarya dan menjadi kaya dan tetap terkenal, seperti halnya bang Jaja Miharja yang menjadi kaya raya hany karena berurusan dengan wilayah seputar goyang, tubuh molek permpuan, iklan dan sabun mandi sebagaimana aku.

Mengapa tidak ?

[memoar ini disarikan langsung dari wawancara “tergesa” bersama Om Leo, desainer yang pernah mengalami cuci-otak idealisme secara mendadak dalam sebuah penjara (yang menurut beliau disebut sebagai “penjara ndangdhut”) dan sampai sekarang masih setia dan bertambah kaya raya serta ngetop dengan ideologi ndangdhut-nya

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s