Posted on

INTRODUCING A NEW POLLUTION

I don’t question our exsistence, I just question our modern need…” Garden -Pearl Jam

Dunia yang sekarang kita hidupi, adalah dunia dimana setiap hari terjadi bombardir tanda-tanda dalam bentuk hiburan dan informasi. Mungkin saja kita tidak pernah risau, bahwa hidup kita sesungguhnya telah dilenakan oleh banjir informasi. Sedemikian banyak informasi yang datang secara bertubi-tubi ini, tanpa kita sadari telah menjadikan kita bersikap pasif, egois dan secara kronis telah  memandulkan kemampuan berpikir kita. Manusia telah dikuasai oleh wabah virus “rasa nikmat” yang sungguh luar biasa. Rasionalitas dan akal sehat telah ditenggelamkan oleh lautan informasi yang sungguh semakin berlebih, dan tidak lagi relevan. Kondisi seperti itulah yang dicemaskan oleh Aldous Huxley dalam novelnya yang sungguh imajinatif dan memukau, “Brave New World”. Pesan positif yang dapat kita petik dari sana adalah sebuah ironi yang meramalkan bahwa “kehancuran” dalam bentuk baru bagi manusia telah semakin dekat, akibat yang justru disebabkan oleh hal-hal yang disukai dan menyenangkannya.

Dunia informasi, dunia hiburan memang tidak dapat terlepas dari wilayah media komunikasi visual atau lebih asyik kalau kita istilahkan sebagai “dunia visual”, yang tidak dapat kita pungkiri lagi sebagai ruang kreatif bagi aktivitas desain grafis. Ironi yang telah dicemaskan oleh Huxley, seharusnya mampu menggugah kesadaran kita, terutama ketika kita dihadapkan pada realitas “banjir Informasi” seperti yang telah disebut di atas. Dengan perasaan yang sungguh berdebar-debar, tanpa sadar ternyata kita telah menunggu sebentuk kehancuran baru yang dijanjikan oleh keleluasaan jaringan informasi dan komunikasi yang batas-batasnya kian melumer. Tanpa sepenuhnya kita mampu mengidentifikasikannya, komunikasi visual yang begitu melimpah ruah dan disertai laju pertumbuhan yang semakin tidak rasional ini telah menimbulkan sebuah polusi baru yang kini kian merebak: POLUSI VISUAL.

NAH, dalam situasi seperti ini, polusi visual yang terjadi adalah ketika pelaku kreatif dalam ruang komunikasi visual telah habis-habisan mengeksploitasi segala sesuatu dengan sedemikian rupa sebagai media, yang bermuara pada sikap tidak mengindahkan berbagai komponen organisme dan struktur ekologi dalam lingkungan kita. Bombardir visual yang terjadi telah mencipta sebuah lingkungan baru, dimana kehidupan yang ada di dalamnya menjadi tidak sehat,  baik  (secara fisik) ataupun (terutama) mental. Kondisi yang memunculkan pengalaman-pengalaman baru, yang sungguh akan memicu terjadinya “patologi baru” dalam integritas fisik, psikologis dan spiritual, yang berbias pada keseimbangan komponen organisme dan lingkungan. Ironi yang terjadi, justru didukung oleh semakin tidak pedulinya (atau mungkin –ketaksadaran) masyarakat terhadap situasi yang sebenarnya sedang berlangsung. Seolah kita semua telah terbius dan terpesona dalam sebuah fantasi yang memang sungguh penuh bujuk rayu dan  bergelimang dengan imaji yang saling tumpang tindih dan bahkan tak terkonsep secara ‘matang’. Dan yang lebih mengejutkan adalah ketika para ahli dan praktisi yang terlibat di dalamnya, justru memilih untuk semakin menenggelamkan diri dalam suasana ekstase tersebut, “that’s the point of this problem”.

Ketika para ahli yang seharusnya memberi jalan keluar bagi ancaman “kehancuran baru” tersebut, justru sebaliknya malah menambah “kesesatan” baru bagi masyarakat. Konsentrasi dan visi yang dimiliki telah terpecah oleh berbagai macam idealisasi dan godaan-godaan yang sarat dengan berbagai macam ‘kesenangan’ dan kepentingan. Hal tersebut, sungguh tidak menutup kemungkinan  menjangkit pada diri kita, generasi muda, pelaku kreatif dalam dunia desain grafis, yang dalam hal ini keberadaannya memiliki peran yang signifikan dalam derasnya laju komunikasi visual. Dalam situasi seperti ini, sangat diperlukan kemampuan seorang desainer dalam mengembangkan kapasitas berpikir kreatifnya, dengan kearifan sikap peduli terhadap realitas-realitas renik dalam lingkungan kita. Kesadaran seperti itu, yang diharapkan muncul dalam nurani desainer, paling tidak sebagai wujud pengaktualan diri dalam  mempertanggungjawabkan sikap dan profesionalisme terhadap pelestarian ekologis, yang kini dirasakan telah kian mengabur.

Ketika melakukan proses kreatif, semestinya kita harus sadar bahwa sesungguhnya sifat manusia pada dasarnya bukanlah independensi, melainkan dependensi (ketergantungan), maka peran desainer sebagai sentral dalam komunikasi visual-pun juga tidak dapat menghindarkan diri dari ketergantungan terhadap keseluruhan sistem ekologi yang melingkupinya. Kita perlu merekonstruksi sebuah kesadaran dan realitas baru yang merupakan wujud dari visi ekologis, yang dapat kita pahami sebagai visi baru yang lebih efisien, komunikatif serta mampu membangun emphati pada keberlangsungan keseimbangan ekologis. Kreativitas yang kita  hadirkan, semestinya memiliki standar estetika yang dibingkai oleh moral dan etika ekologis. Akan tetapi sejauhmana peran aktif seorang desainer mampu mempengaruhi kesadaran masyarakat dalam memberikan ruas-ruas jalan keluar bagi kebuntuan dalam masalah ini?

Amunisi ampuh bagi seorang desainer untuk melakukan kampanye dalam hal ini, adalah posisi dan otoritasnya sebagai creator dalam wilayah komunikasi visual. Posisi dan otoritas yang dimiliki desainer sangat efektif untuk mempengaruhi etika, kehendak serta perilaku masyarakat. Efektifitas yang terjadi, adalah posisional yang dimiliki desainer, yang tentu saja lebih menguasai medan laju komunikasi visual. Posisi seorang desainer yang lebih menguasai “medan”, yang oleh para ‘kulturalis’ sering disebut sebagai “gaya visual”, aspek yang tak dapat terpisahkan dari ritus gaya hidup masyarakat modern. Dick Hebdige, dalam “Subculture:The Meaning of Style, memandang gaya hidup sebagai bentuk pengungkapan makna sosial dan berbagai penandaan dalam realitas kultural. Setiap bentuk penggunaan ruang, waktu dan objek di dalamnya mengandung aspek-aspek petandaan dan semiotik, yang mengungkapkan makna sosial dan realitas kultural tertentu. Nah, dalam situasi ini, gaya visual berperan besar dalam mempengaruhi dan merekonstruksi gaya hidup.

Berbicara tentang “gaya visual”, kita tidak mampu mengelak dari wilayah desain komunikasi visual, yang tentu saja dalam hal ini kita harus segera menukik pada wilayah desain grafis. Dalam membentuk dan menentukan sebuah persepsi dan kecenderungan gaya visual dalam masyarakat modern, desain adalah media provokasi yang sangat efektif. Beragam citra dan imaji dapat segera terekonstruksi, tersimulasi dan diproduksi secara massif, sebelum pada akhirnya membombardir benak, pola pikir dan perilaku  masyarakat. Desain yang efektif, dengan mudah dapat mengkomunikasikan pesan yang akan  segera membangun persepsi yang mampu mempengaruhi alam bawah sadar masyarakat secara kolektif. Sebuah desain, hendaknya memiliki kapasitas untuk merepresentasikan standar-standar normatif  tentang penyadaran ekologis kepada masyarakat. Pesan-pesan positif yang ingin diwartakan kepada masyarakat, hendaknya mampu tersimulasi secara efektif melalui karya desain. Keberhasilan desain dalam mengkomunikasikan pesan yang diembannya, pada akhirnya akan saling merespon secara aktif dalam proses identifikasi antara perilaku dan pola pikir pada masyarakat modern.

Seyogyanya, seorang desainer meski koreksi diri dan memahami akan posisi serta otoritasnya dalam membangun kesadaran masyarakat melalui “efektivitas” dan daya “eksplosive” yang dimiliki karya desainnya. Sikap sadar diri inilah yang diharapkan akan menghindarkan dari sikap semena-mena dalam mengeksploitasi fungsi desain, terutama dalam meminimalisasikan sikap kreatif yang tidak mengindahkan moral dan etika ekologis. Paling tidak, dengan strategi seperti ini,  kita telah mewaspadai terhadap apa yang pernah dikabarkan oleh filosof Heidegger, dalam “The Age of World Picture”, bahwa seiring dengan berkembang biaknya citraan-citraan disekeliling kita secara tak terkendali, maka dunia dimana tempat kita hidup pada akhirnya berubah menjadi antologi citraan yang tiada pernah ada habisnya, namun menyesatkan dan tanpa makna. Manusia pada akhirnya akan diselubungi oleh polusi visual, yang mengurung diri, mendesintegrasi dari diri kita sendiri, menjadikan diri kita menjadi mekanis, kehilangan akal sehat dan dilanda kekosongan jiwa.

Keseimbangan ekologis memerlukan perubahan-perubahan besar dalam persepsi kita tentang peran di dalam ekosistem planet ini, terutama ketika di dukung oleh kesadaran baru, yang berakar pada persepsi terhadap realitas yang mencapai suatu kesadaran intuitif tentang kesatuan ekosistem dan saling ketergantungan antara aspek-aspek yang berada di dalamnya, serta daur perubahan dan transformasi dalam laju komunikasi visual. Sebagai modus kesadaran dimana setiap individu merasa terkait dengan kosmos secara keseluruhan, maka jelaslah bahwa kesadaran ekologis ini benar-benar menyangkut masalah imajinatif, kreativitas dan spiritualisme.

Uuups”, sorry kalau tulisannya jadi kebabalasan, namun inilah urgensi yang sedang terjadi yang seringkali tidak kita sadari. Paling tidak, sebelum kita mengkomunikasikan karya kita kepada orang lain, kita meski selalu melakukan reduksi dan merubah perilaku diri kita sendiri dengan cara merubah nilai dan sikap kita untuk selalu mencoba, serta memperoleh kembali spiritualitas kita akan kesadaran ekologis yang kian pudar dalam diri kita. Setidaknya kesadaran yang tertanam dalam diri kita tidak sekedar menjadi kesadaran semu semata, namun sungguh menjadi wujud dari usaha mengaktualkan diri secara individu maupun pertanggungjawaban profesi sebagai seorang desainer, generasi muda yang memang sungguh profan ini.

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s