Posted on

Happy Literature Mix!

Selamat datang dalam permainanku, dimana tidak ada lagi kebaruan kan kau temukan disini. Hanya tinggal (ada) puing-puing disini, kau bisa bermain-main di sini sepuasmu.  Bermainlah lompat tali sesukamu, tangkaplah kupu-kupu, atau kau ingin berkejaran, main petak umpet, melukis pelangi, membaca puisi atau bahkan berebut bola? Bermainlah disini sepuasmu, sekehendak hatimu kawan asal kau senang dan tertawa, asal kau tak murung, bermainlah, karena semua di sini ini tiada yang lain selain permainan.

Kiranya kesan seperti itulah yangku rasakan, ketika “globalness” dengan penuh riang dan suka cita menyambut kehadiran blogku, welcome domba!, permainan macam apa yang ingin kamu mainkan di tengah maraknya pesta pora media massa ini?

ehm… sejenak ingin rasanya menarik dan menghela nafas dalam-dalam, “pesta pora”. suasana gerangan apakah kiranya ini?.

Dalam benakku langsung terbersit sebuah perayaan yang diliputi kemegahan, glamour dan tentu saja suasana gegap gempita pasti akan terhampar di sana. Lalu aku kembali tertegun pada pertanyaan yang sangat mendasar, tentang “permainan macam apakah yang akan kau mainkan?”

Sempat tergagap  mendengarnya, tenggorokan serasa tercekat dan ngilu terasa sangat kelu mencekat lidahku. Ahh.. rupanya diriku mesti sejenak berdiam diri, dan berpikir tentang permainan apa yang hendak kumainkan dalam konstelasi media di jagad global ini. Peran apakah yang sekiranya meski dimainkan untuk membuktikan kehadiran kita. (bukankah setiap kehadiran harus memiliki sebuah peran ?). Sejak saat itu tidurku tidak lagi pernah lelap, setiap hari selalu berpikir tentang eksistensi, perasaan galau terus menghantui setiap gerak langkah dan kecemasan-kecemasan selalu menggugah keinginanku, kreativitas untuk selalu mencipta, merekonstruksi sebuah “permainan baru” yang sekiranya mampu memberikan kesegaran baru dalam konstelasi arus media massa di Indonesia.

Aku tidak pernah berhenti untuk selalu membuka peta, menghela napas panjang dan mengingat kembali alur perjalanan. Tiada lelah terus berusaha memecahkan kode-kode, mencoba menyusun kepingan-kepingan fragmen terindah dalam alur perjalanan yang telah terlewat. Menghubung-hubungkan pertautan naratif antara yang fakta dan yang fiktif, saat-saat sedih dan saat-saat gumbira, antara kenyataan dan bayangan. Perpaduan yang berjalan sinergis diantara keping-keping sintetis yang terus berlalu-lalang. Sebuah autobiografi diri yang terpecah, berserak dalam segala upaya untuk terus memahami, kemudian merangkainya sebagaimana dalam sebuah permainan puzzle. Meskipun hingga kini tak juga kucapai akselerasi titik-titik temu dalam sebuah frame yang pas. it’s actually artificial, we design for life.

Aku sadar blog ini adalah sebuah resiko, tak sekedar pujian bertabur, tak kalah sinisme berkata bahwa aku terlalu yakin dalam mengadopsi pandangan-pandangan yang cenderung pesimistik. Namun tak reda ku akan selalu berkata, bahwa inilah bagian dari satu genre baru, dimana diksi-diksi yang plastis, dimana imaji-imaji menjadi lentur, bahkan  membelah diri untuk sekedar mungungkap kembali akan keping-keping ingatan, rasa pahit atau gula masa lalu yang terus berseliweran dalam sebuah arus ‘nausee’ yang tiada berkesudahan.  Aku akan terus percaya, jika ternyata sampai saat ini aku sendiri selalu keliru untuk mendefinisikan diri. Sampai lusa, kelak di kemudian hari blog ini adalah benar-benar menjadi sebuah form kreativitas, sebagai sebuah perspektif, cara lain untuk berempati bagi siapa saja kepada kekosongan. Cara berinteraksi dengan memberikan perhatian kepada semua hal yang ada di sekeliling kita secara habis-habisan, untuk mengabadikan segala kefanaan yang ada di hadapan kita.

Biarlah terus berkembang, dalam turbulensi antara optimisme dan ketidakpercayaan diri dalam menghadapi gegap dunia kreativitas, yang dalam pemahamanku tak lebih sebagai suatu labirin. Genealogi pop untuk selalu mencari-cari dan senantiasa berubah demi keinginan untuk merekonstruksi tentang apa yang disebut sebagai identitas. Ini semata-mata agar apa yang dihadirkan, yang mungkin saja tak lebih dari sekedar kitsch ini mampu mengaktualkan dirinya sebagai satu bentuk subversi terhadap kebiasaan yang dianggap mapan, yang jauh lebih merupakan ‘resistensi simbolis’ terhadap ideologi yang kian deras telah menghegemoni. Inilah karnaval fantasi-fantasi, riak-riak gelombang pasang yang terus berani merepresentasikan keberadaan diri sebagai anak jadah dari realitas kultural zaman. Namun hal paling hakiki yang sesungguhnya ingin ku-propagandakan, adalah bahwa aku ingin mengajak semua teman untuk riang dalam ritmis kegilaan bersama-sama.

 

violently happy………..Farewel from DombaPencerita!

About dombapencerita

http://dooid.me/indrakusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s