GERAKAN SENI RUPA BARU

Berawal dari protes beberapa perupa muda pada Pameran Besar Seni Lukis Indonesia I di Taman Ismail Marzuki, Desember 1974. Protes ini dikenal dengan nama Desember Hitam. Isi statement dalam protes tersebut menyatakan bahwa perkembangan seni lukis sangat terdorong oleh eksperimen dan pembaharuan, tanpa semangat ini maka seni rupa akan mati. Sebagian perupa muda dari ISI Yogyakarta yang tergabung dalam protes “Desember Hitam” kemudian bergabung dengan perupa muda dari ITB seni rupa mengadakan pameran “Seni Rupa Baru” yang pertama di TIM tahun 1975. Antusiasme masyarakat seni rupa dan kritikus melihat sebagai perubahan dalam seni rupa, sebaliknya beberapa kritikus mencaci maki. Gerakan Seni Rupa Baru bubar pada tahun 1979. Namun bentuk karya, media penciptaan dan proses penciptaan berkembang hingga kini yang kemudian disebut sebagai Seni Rupa Kontemporer Indonesia. FX Harsono adalah salah satu eksponen Gerakan Seni Rupa Baru yang masih aktif berkarya dan menulis sampai saat ini.

Mengapa kita sulit menumpas korupsi?

Pertanyaan ini menjadi amat layak di ajukan karena bangsa ini amat unik dan paradoksal dalam urusan korupsi. Bangsa ini gegap gempita meneriakkan jargon berantas korupsi. Hampir tiada hari berlalu tanpa pembahasan penanggulangan korupsi. pejabat, dari lurah sampai presiden, amat fasih bisara tentang urgensi penumpasan korupsi.

Namun justru Indonesia dikenal sebagai satu dari tiga negara terkorup di dunia. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang tidak tuntas, tidak konsisten memberantas korupsi. niat memberantas korupsi lebih tampak pada tahap teriakan dan wacana dibandingkan dengan bukti di lapangan. beberapa pejabat bahkan terkesan mencari panggung dengan berteriak tentang pentingnya memberantas korupsi, sementara ia tidak melakukan kegiatan nyata menumpas korupsi.

Disisi lain,indonesia menjadi negara dengan lembaga penumpas korupsi terbanyak. ada lembaga kejaksaan yang  berwenang menciduk koruptor, ada lembaga kepolisian, dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Selain itu juga ada sejumlah lembaga yang mempunyai kewenangan besar menyalakan sinyal kerugian negara, misalnya Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, inspektorat jenderal di tiap departemen atau lembaga pemerintah. Undang-Undang (UU) Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pun menjanjikan hukuman berat bagi koruptor. Kurang apa lagi?

Dalam gebrakan 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, yang mulai digulirkan oktober 2004, belum tampak hal krusial dalam pemberantasan korupsi. Jika hendak dihitung, hanya beberapa tersangka korupsi “kelas atas” yang diperiksa.

Harus diakui, terlampau pagi untuk memberi penilaian terhadap jaksa Agung Abdul Rahman Saleh karena ia baru kerja 50 hari menjadi Jaksa Agung. Namun hal yang patut diingatkan, Abdul Rahman Saleh belum menunjukkan fenomena atau indikasi yang memungkinkan publik berpikir bahwa ia seorang yang bertindak cepat menumpas korupsi. Ia pun belum membuat iklim yang semua warga takut berbuat korupsi.

Publik mengharapkan Abdul Rahman Saleh menunjukkan bahwa ia “tonggak” pemberantasan korupsi mengingat latar belakangnya yang relatif bersih. Publik berharap ia seperti almarhum Suprapto, mantan Jaksa Agung, yang berani menyatakan “tidak” secara lantang bahkan kepada pendiri Republik, Soekarno. Publik berharap Abdul Rahman Saleh menyamai prestasi almarhum Baharuddin Lopa yang begitu masuk  ruang kerja di Lantai 2 Gedung Kejaksaan Agung, langsung menggebrak dengan memanggil tersangka koruptor. Sayang Lopa cepat wafat.

Lembaga yang menunjukkan taring adalah KPK, dan menunjukkan wibawa cukup besar saat Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, meminta pejabat pemerintah tidak menerima parsel. Soal parsel patut diakui merupakan soal “kecil” yang tidak signifikan dengan urusan korupsi. tetapi substansi yang hendak dipetik adalah apa yang diminta Erry mendapat respons luar biasa. Pejabat takut menerima parsel, dan warga yang biasanya mengirim parsel ke pejabat menjadi takut mengirim parsel. bahwa kemudian para penjual parsel terkena dampak karena omzet menurun itu dua soal berbeda. Dari persoalan parsel ini, warga sebetulnya bisa diajak mengerti dan taat pada UU, warga bisa diajak menerima larangan. Buktinya, larangan mengirim parsel bergaung keras.

Hal relevan diketengahkan ialah rakyat dari negara penduduk 220 juta jiwa ini amat membenci korupsi. rakyat bersedia diajak berperang melawan korupsi dari arti sebenar-benarnya. Persoalannya hanya pada aparat penegak hukum, seberapa serius berniat menumpas para koruptor. Aparat penegak hukum seperti diketahui sudah dibekali UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sudah mendapat sikap tegas dari Presiden dan wakil Presiden RI. Penduduk pun sudah memberi dukungan penuh. Jika aparat penegak hukum masih tidak bisa melakukan tugasnya secara optimal menciduk para korupreo, sungguh sudah keterlaluan.

Hitam Putih

Jika mengacu UU pemberantasan tindak pidana korupsi, korupsi dan indikasi korupsi, amat gamblang. Pemahaman sederhana dan umum tentang tindak pidana korupsi adalah “tiap orang yang secara sadar melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri ayau orang lain atau suautu korporasi, secara terus menerus atau sementara waktu, dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dihukum dengan pidana penjara sekian tahun dan denda sekian rupiah…..”

Kriteria ini amat jelas. Karena itu, aparat penegak hukum harus bersikap hitam putih, cerdas dan berani mengambil tindakan tegas jika menemukan indikasi korupsi yang dilakukan aparat/pegawai negeri dan bukan bukan pegawai.

Sikap “hitam putih” ini, tentu dengan mengabaikan segala aspek, termasuk aspek politik dibelakang kasus-kasus itu. Sikap “hitam putih” menepikan masalah hubungan kekeluargaan, kekerabatan, pertemanan, pejabat, mantan pejabat, atau bukan, militer atau bukan. Artinya, sispapun sama kedudukannya didepan hukum. Seorang yang (kebetulan) berkedudukan sebagai presiden, menteri, anggota legislatif, pimpinan lembaga tinggi negara, jenderal, gubernur, atau siapapun, jika diperoleh indikasi atau unsur atau bukti permulaan cukup, ia bisa dibekuk. Sikap hitam putih ini dibarengi oleh keberanian mengambil sikap tegas.

Publik, kita, sama-sama tahu, terjadi selaksa praktik korupsi dinegara ini. Para pejabat menimbunharta, para usahawan leluasa ngemplang utang, tetapi yang sampai ke lembaga peradilan hanya beberapa persen. Ini sungguh menyedihkan.

Negara-negara maju yang sukses menegakkan hukum, diantaranya Swedia, Belanda, Inggris, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan, relatif mampu bersikap “hitam putih” dalam penegakkan hukum. Negara-negara ini selalu melihat hukum secara lurus, yakni bahwa hukum hanya mengenal benar dan tidak benar, tidak ada areal abu-abu dalam penegakan hukum. Maka, seorang kepala negara yang terbukti melakukan korupsi akan diturunkan dari kursinya dan diadili. Indonesia mesti belajar dari kearifan negara-negara yang sudah melihat hukum secara hitam-putih itu.

Ada baiknya negara ini memberantas korupsi dari lembaga penegak hukum sendiri. Artinya, para hakim (termasuk hakim agung), jaksa, dan polisi harus bersih dulu agar ringan langkah kakinya menindak koruptor. Para advokat juga memegang peran penting dalam penegakkan hukum ini. Advokat harus membela perkara dengan nurani, jujur, berintegritas, dan menjunjung tinggi kode etik advokat.

(disarikan dari Kompas 2005, Denny Kailimang, Advokat)

YANG POP DAN YANG ART

Di setiap wacana kesenian terjadi dikotomi pemahaman antara yang pop (mainstream) dan yang art. Yang mengaku anti pop mengesankan kesenian pop itu kelasnya dibawah yang art terutama karena sisi komersialnya. Gawatnya, ada yang mengkategorikan karya pop sebagai kitsch (seni murahan). Sementara yang pop menilai lawan mereka sebagai pelaku kesenian yang egois, yang berkesenian untuk kepentingan personal dan melahirkan karya yang sulit dipahami umum.

Tak beda halnya dengan pertentangan antara seniman Eropa dan Amerika. Cap bahwa kesenian Amerika merusak art scheme Eropa, menjadi tema menarik. Kesenian Eropa yang sophisticated seperti lukisan Renoir, Rembrandt, Picasso, da Vinci ikut memberi pengaruh pada social attitude di Eropa. Maka muncullah kebiasaan-kebiasaan yang terkonstruksi rapi misalnya makan dengan table manner, garpu sendok. Atau cara berbusana yang lebih terpandang. Hal ini menunjukkan relasi dan interaksi kuat antara pola kesenian dengan cara bersikap masyarakat.

Dalam perkembangannya, nilai klasik eropa ini terusik dengan gaya urban pop seniman Amerika. Munculnya prodigy pop seperti Andy Warhol, Roy Lichtenstein, Tom Wesselman, Keith Harring hingga sang transformer Warhol, Jean Michael Basquiat dengan bendera pop art memberi referensi baru dalam cara berkesenian dan perilaku hidup sehari-hari.

Sebagai follow-up dari perkembangan pop art yang menyimpang dari konsep mapan dan serius, muncullah kebudayaan junkfood yang murni buatan Amerika. Kebiasaan makan hot dog, burger dan meneguk minuman kaleng contohnya. Junk foodisme tiba-tiba sederajat dengan perilaku makan pakai sendok, pisau dan garpu ala Eropa. Dan hebatnya Junk food ini mengglobal dalam waktu singkat. Istimewa!!

Pop yang Menghebohkan Dunia Seni

Suka atau tak suka, seni pop telah menjadi fenomena artistik dekade 1960-70an. Di antara berbagai gerakan seni yang pernah ada, rasanya seni pop-lah yang di masa pertumbuhannya sempat membikin heboh berbagai kalangan, sebagian pihak menyebutnya sebagai skandal di dunia seni, bersamaan dengan itu bangkit gelombang protes dan diskusi-diskusi keras antara yang membela dan yang menentangnya.

Kiranya hanya seni pop pula yang pernah menjadi perebutan klaim antara Eropa dan Amerika. Beberapa buku yang bisa kita temukan memperlihatkan kecenderungan perang klaim ini; tergantung siapa dan di mana buku tersebut terbit maka ke arah itulah bandul klaim bergerak.

Buku kecil semacam pengantar apresiasi yang ditulis oleh Josi Pierre yang kali pertamanya terbit di Paris tahun 1971, antara lain menyampaikan kalimat, “sesungguhnya subjek tipikal penggayaan pop, itu mulai terdengar di luar AS bahkan beberapa tahun sebelum penggayaan ini berkembang di kontinental Amerika. Hal ini bisa diruntut berdasarkan kesejarahan dan sosiologinya. Ia bermula di Inggris dan Jerman, dua negara yang boleh dikatakan “sebelum” dan “setelah”nya barulah muncul di peradaban Yankee. Di sekitar tahun 1955, terminologi Pop Art mulai digunakan oleh beberapa seniman Inggris…”

Itu bisa dibandingkan dengan “Seni Modern” tulisan Trewin Copplestone yang terbit di New York tahun 1985. Penempatan tulisannya pun di bagian bab “seni di Amerika.” Kalimat pembuka dari tulisan tersebut untuk memberikan gambaran latar penyebab pertumbuhannya, itu kita lihat seperti berikut, “satu dari sekian kekuatan Amerika yang hadir di Eropa setelah Perang Dunia ke-2 adalah dominasinya Abstrak Ekspresionisme, seni Barat yang banyak menarik perhatian kalangan budaya Amerika dan belakangan dipelajari dengan baik oleh kalangan Eropa.”

Bahkan ketika tulisan tersebut sampai ke ulasan seni pop, ada nada mengakui asalnya dari Inggris tapi “jadi” dan berkembangnya ditandaskan terjadi di AS, kita lihat kalimat klaim tersebut, “in the late 1950s at first in London but soon in New York too, a new and rather surprising development took place.

Belakangan atau beriring dengan hebohnya “seni baru” ini, di Indonesia muncul “Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB).” Merujuk beberapa eksponen di belakang GSRB, kemudian esei-esei senirupa yang pernah muncul di majalah pop “Aktuil,” pun rubrik-rubrik seperti “Puisi Mbeling” dan kemudian “Puisi Awam” (semua ini hanya berdasarkan ingatan karena dokumennya sudah tidak ada, hd); maka sesungguhnya bisa dikatakan bahwa GSRB itu adalah perpanjangan dari gerakan pop yang berlangsung di Indonesia di tahun 1970-an. Dan seperti apa yang terjadi di sono-sono-nya, di sana-sini saling berkait dengan “Dada” serta happening arts.

Tapi apa dan bagaimanapun, ada baiknya kita buka kembali catatan yang telah tertimbun 30 tahun ini. Sambil bernostalgia kita lihat kembali apa dan bagaimana kesenian yang sempat menghebohkan ini.

Seni pop di Inggris. Teori Seni Pop Inggris dicetuskan antara tahun 1952 dan 1955 di dalam pertemuan “Independent Group” di Institute of Contemporary Arts London. Anggota dari kelompok ini mencakup arsitek Reyner Banham, kritikus Lawrence Alloway, seniman-seniman Richard Hamilton, Eduardo Paolozzi dan William Turnbull. Di dalam pertemuan itulah Alloway menyatakan: “jelaslah bahwa kita memiliki bahasa kebudayaan awam yang berlanjut ke arah beragam hal khusus atau beragam keahlian, baik di bidang seni rupa, arsitektur, disain, pun kritik-seni; yaitu hal yang dilakukan oleh kita semua. Wilayah kontaknya adalah produksi massal kebudayaan urban: bioskop, periklanan, fiksi sains (science fiction). Kita merasakan tak seorang pun yang tidak suka standar kebudayaan komersial termasuk di dalamnya sebagian besar kalangan intelektual. Semua menerimanya sebagai fakta, mendiskusikannya hingga ke detail-detailnya, dan mengonsumsinya dengan sangat bergairah.”

Kata “pop” digelindingkan oleh Alloway untuk mengidentifikasi gambaran dari kebudayaan awam yang populis (populer) ini, yang hidup dan diarahkan bagi kehidupan awam, manusia biasa (unspecialized man-in-the-street) dan kalangan anak muda. Belakangan digunakanlah kata “pop” tersebut untuk mengidentifikasi model baru seni figuratif yang muatan-muatannya berkenaan dengan batasan awam, kebudayaan urban, dan populer itu.

Adalah sebuah pameran bertajuk This is Tomorrow, berlangsung di Whitechapel Art Gallery tahun 1956, menampilkan karya-karya Richard Hamilton antara lain collage-nya yang berjudul Just what is it that makes today’s homes so different, so appealing? Inilah yang kemudian dianggap kilasan tanda (foreshadow) bagi munculnya sebuah gerakan. Pada tahun 1957 karya Peter Blake berjudul On the Balcony was completed, dinyatakan sebagai “karya figuratif utama.” Kemudian di tahun 1959 atau 1960 para Popist (pelaku pop) muda seperti Kitaj (yang datang ke Inggris tahun 1958), Boshier, Hockney, Allen Jones, dan Peter Phillips, mulai berpameran di The Young Contemporaries sebuah jaringan dari galeri-galeri R.B.A. Inilah moment kemunculan “Generasi Baru” yang berpameran di Whitechapel Art Gallery.

Serangkaian gebrakan, urut-urutan peristiwanya: di tahun 1963 Inggris merepresentasikan sejumlah senimannya yaitu Blake, Hockney, Jones dan Phillips pada Paris Biennale for Young Artists, pada tahun 1964 Seni Pop Inggris tampil di The Hague, di Vienna dan Berlin dalam sebuah pameran bertajuk Nieuwe Realisten. Pada tahun 1976 sebuah pameran “Seni Pop di Inggris,” diorganisasikan oleh Dewan Kesenian (the Arts Council) Inggris, karya-karya ini tampil pula di Kunstverein di Hamburg, Stadtische Gallery im Lenbachhaus, Munich, dan York City Gallery. Dalam pameran itu terdapat dua bagian sajian: (1) kelompok yang dianggap pionir yaitu Paolozzi, Hamilton, Blake, Tilson; dan (2) kelompok pelanjut yaitu Hockney, Kitaj, Boshier, Richard Smith, Allen Jones, Peter Phillips.

Kecenderungan utama pelaku Seni Pop di Inggris berlandaskan pada individualistik yang ekstrem, baik dalam hal sikap atau pun penggayaan. Meski demikian, mereka tetap memiliki perhatian umum terhadap wacana sekitar gambaran (imagery) media massa, iklan-iklan barang-barang konsumtif keseharian, dsb., tapi dalam penggunaan gambaran (imagery) ini masing-masing sungguh sangat berbeda. Pada awalnya, dan terutama pada kasus Paolozzi dan Phillips, keduanya tampak menaruh minat terhadap gambaran populer kebudayaan massa yang kemudian diperlakukannya sebagai simbol romantik sekaligus nostalgik. Mereka pun memperhatikan berbagai barang bekas (second-hand), memperlihatkan rasa takjub terhadap keberhasilan dan perkembangan teknologi Amerika dan kemudian “memungut”nya pula sebagai medium. Sikap itulah yang mengilhami seni baru (the new art) yang kemudian berkembang lebih jauh menjadi semurni-murninya revolusi artistik.

Gerakan ini pada dasarnya menolak dua hal sekaligus yaitu seni tradisional dan seni yang ditujukan bagi kemapanan. Oleh kecenderungannya itu, maka lebih berjalin dengan jaringan yang berhasrat membongkar batas antara yang disebut kebudayaan ‘tinggi’ dan ‘sub-culture’ yang populer dan oleh sebagian orang dianggap rendahan. Cara yang dilakukannya yaitu dengan menyerap imaji-imaji mutakhir dunia ‘sub-culture’ tadi tanpa ada perasaan/perlakuan/sikap benci terhadap ke-sepele-an dan ke-banalitas-annya, sekaligus tanpa menghakiminya sebagai sampah melainkan menerimanya sebagai standar estetik. Penolakan terhadap seni Mapan (Establishment art) ditunjukannya secara besar-besaran dengan mengedepankan simbol-simbol generasi muda semisal film-film Hollywood, fiksi sains (science fiction), kartun/komik strip dan budaya Teddy-boy.

Di samping ketertarikan terhadap sosiologi primer seperti tersebut di atas, Popists (pelaku seni Pop) sebagai seniman-seniman tulen sekaligus profesional sesungguhnya dilandasi pula oleh pengetahuan yang lengkap tentang sikap artistik seniman terdahulu (generasi sebelumnya), maka mereka pun jadi begitu memperhatikan masalah-masalah piktoral murni (purely pictorial), baik sebagai representasi alamiah atau pun sebagai problema semantik komunikasi yang menggunakan sumbolisasi visual.

Dengan satu atau lain cara mereka semua mengalami dan berada di dalam problema-problema kebudayaan (urban) yang baru ini. Bersama dengan waktu, semua ini bermunculan sebagai amatan sosiologis mereka dan kemudian menjadi ruh dari Seni Pop. Di dalam katalog pameran “Seni Pop di Inggris” ihwal semua itu dengan tajam dikatakan: “Seni Pop bukan hanya mengamati realitas piktorial sebagai sebuah objek tapi juga mempertanyakan, ‘Berapa banyak macam simbol-simbol dan makna-makna yang bisa dimuatkan ke dalam suatu karya?’ (Lawrence Alloway) dan ‘Seberapa jauh simbol-simbol itu bisa direduksi tanpa harus kehilangan nilai informasinya?’ Sifat multi-pernyataan (multi-evocative) bahasa piktorial-nya Paolozzi adalah jawaban bagi pertanyaan pertama, dan dunia piktorial-nya Hamilton yang berupa investigasi secara mendalam terhadap media adalah jawaban bagi pertanyaan kedua. Kedua jawaban itu diberikan tidak di dalam sesuatu yang sistematik, bergaya ilmu pengetahuan melainkan lewat bentuk artistik. Maka refleksi gambar-gambar dan efek-efeknya pun menjadi komponen penting dari setiap karya kalangan Popists Inggris. Dengan gambar-gambar di dalam ‘gambar’nya, Blake menunjukan perhatiannya terhadap dominasi reproduksi; Hockney memperkenalkan tautologi untuk mereduksi informasi yang hilang dan melakukan simplifikasi kemungkinan legalitas dan interpretasi; Tilson seperti melihat drama di dalam drama, dia tertarik pada tingkatan realitas dan ilusi piktorial, ini terlihat ketika ia mengombinasikan secara halus antara gambar-gambar dan kata-kata demi menunjukan titik-titik identitas informasi dengan menggunakan simbol-simbol yang saling berbeda; Jones dan Phillips, dengan kecenderungannya masing-masing mencoba mengintegrasikan gambar dengan objek yang pernah terpresentasikan, semisal ilustrasi yang pernah dipakai sebagai ilustrasi di suatu terbitan (prinsip problem semantik); Kitaj dengan karya-karyanya memperlihatkan gambaran betapa sukarnya manusia dalam hal berkomunikasi.”

Seni pop di Amerika. Seni Pop di Amerika mulai muncul di pertengahan 1950-an sebagai matarantai reaksi terhadap abstrak ekspresionisme. Peletak dasar atau cikal-bakalnya adalah Jasper Johns dan Robert Rauschenberg. Keduanya menggunakan imaji-imaji umum dan benda-benda Kitsch, tapi mengombinasikannya dengan kecerdikan dan pemahaman teknis yang brilian sehingga kemudian justru melepas karya-karyanya dari kungkungan kekuasaan Kitsch sekaligus berontak. Seni Pop Amerika berakar pada “Dada” bahkan adakalanya dikenal sebagai “Neo-Dada.” Juga memiliki kaitan dengan Seni Indian Amerika dan dengan seni primitif Amerika, oleh karena itu adakalanya Seni Pop Amerika kelihatan seperti bunga baru dari tradisi nasional. Ini ditandai oleh peristiwa di Milwaukee Art Center pada tahun 1965, di sana diselenggarakan sebuah pameran dengan tajuk Pop Art and the Amerikan Tradition.

Pelaku Seni Pop Amerika yang paling dikenal, tentu saja, Andy Warhol, Jim Dine, Roy Lichtenstein, Claes Oldenberg, Tom Wesselmann, James Rosenquist, Robert Indiana. Richard Smith dan Larry Rivers pun bisa dikelompokkan kepada kecenderungan ini, bersamanya juga adalah pematung George Segal dan Marisol. Di California adalah juga yang berkait dengan Seni Pop semisal Mel Ramos, Edward Ruscha, Wayne Thiebaud, Joe Goode, Robert O’Oowd, karya-karya tablo-nya Edward Kienholz dan assemblages-nya Richard Pettibone. Seniman-seniman ini secara umum memperlihatkan ketertarikannya yang amat kuat terhadap kebudayaan kontemporer megapolitan yang didominasi oleh media massa dan produksi massal barang-barang konsumtif. Mereka melihat budaya baru ini dorongan terkuatnya dikendalikan oleh iklan-iklan komersial serta beragam seni kemas. Tipuan iklan ini, menurut mereka, pada dasarnya berakibat kepada pembodohan dan menimbulkan kebingungan.

Di antara rumpun Pop Amerika adalah seni assemblage dan seni happening. Gabungan semua ini berkembang dan berpengaruh begitu kuat hampir di seluruh Amerika, tapi kenyataanya pula ada di negara-negara Eropa, Latin Amerika dan Jepang, dan sesungguhnya pula di Indonesia. Dari beberapa seniman-seniman individual yang termasuk kategori Pop antara lain muncul lewat Fahlstrvm di Swedia, Alain Jacquet di Prancis, Valerio Adami di Italia, Arman dari Nouveaux Realistes dan beberapa di Jerman.

Perkembangan menarik lainnya, sesungguhnya terjadi di dunia musik yang relatif lebih ajeg dan kuat serta pengaruhnya meluas. Di samping itu, ide gerakan pop yang salah satu tuntunannya berkehendak agar seni (pop) itu mengkhalayak -salah satu alasan Warhol memakai medium seni-grafis dengan media “murah” yaitu sablon, tercapai melalui jalur industri musik pop. Lukisan-lukisan atau karya-karya visual lainnya dari beberapa seniman pop bermunculan menjadi sampul-sampul piringan hitam. Di sinilah nama-nama perupa pop lainnya bisa ditemukan, antara lain Noc yang kebanyakan menggarap sampul album Blondie; Gerald Scarfe untuk Sade; Stuart Sutcliffe untuk George Harison dan John Lennon; Andy Warhol membuatkan logo untuk Rolling Stones; dan puncak dari itu semua (menurut hemat saya) muncul pada Gerald Scarfe khususnya ketika menggarap proyek The Wall bersama Pink Floyd. John A. Walker, merumuskan gejala ini sebagai puncak bertemunya keseriusan dan kecendekiaan dunia seni dengan awam (unspecialized man-in-the-street). Itu semua ditulisannya di dalam buku Cross-Over: Art into Pop – Pop into Art. Digambarkan bahwa musik sendiri mengalami “perkawinan,” kolaborasi, pertemuan, atau seperti yang disebutnya “cross-over” antara yang awam dan yang serius.

Kiat Sukses Menghadapi Masalah

SETIAP KALI MENGHADAPI KESULITAN, COBA TANYA PADA DIRI SENDIRI, PELUANG APA YANG TERSEMBUNYI DI BALIKNYA

Didalam masyarakat yang demokratis dan bebas, peluang untuk meraih prestasi jumlahnya tak terbatas. Dalam setiap usaha atau profesi, selalu terdapat sejumlah peluang untuk menciptakan produk baru, memperbaiki hasil produksi dan meningkatkan proses administratif, memberikan pelayanan yang lebih baik dibanding yang diberikan kompetitor. Tapi, semua peluang akan segera hilang jika sesesorang tidak meraihnya dan mengusahakannya. Setiap kali menghadapi masalah sulit, coba berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, peluang apa yang tersembunyi dibalik masalah? Jika anda menemukan sebuah peluang. Anda akan berada jauh didepan para pesaing anda.

PELUANG ADALAH IDE-IDE ATAU KONSEP-KONSEP YANG MUNCUL DALAM PIKIRAN ORANG YANG MENGENALINYA

Sering kali terjadi, peluang-peluang sepertinya selalu mendekati orang yang sibuk, yang hampir tak punya waktu untuk menangani segala sesuatu yang sudah mereka miliki. Anehnya peluang tidak mendatangi orang-orang yang punya banyak waktu senggang, tapi justru menampakkan diri pada orang-orang yang mempunyai tujuan, impian dan rencana untuk mencapainya. Kita sering membayangkan peluang sebagai sesuatu yang hidup, yang bergerak, yang secara aktif mencari orang yang bersedia menerimanya. Kenyatannya justru kebalikannya. Peluang-peluang sebenarnya adalah ide-ide atau konsep-konsep yang muncul hanya dalam pikiran orang-orang yang mengenalinya. Jika anda tak punya tujuan atau rencana, peluang tak berarti apa-apa untuk anda. Ide-ide itu menjadi peluang hanya jika anda mengenalinya sebagai ide yang dapat dilaksanakan untuk membantu anda mendekati tujuan anda.

IDE BARU HANYA AKAN BERHARGA JIKA DIPRAKTEKKAN

Kemampuan mengenali peluang-peluang adalah unsure yang sangat penting untuk sukses. Tapi itu hanya merupakan tahap awal. Ide anda baru menjadi berharga jika dipraktekkan. Orang yang sangat sukses tahu, banyak cara untuk memanfaatkan peluang. Mereka mengevaluasi dan membentuknya untuk disesuaikan dengan kemampuan-kemampuan mereka. Atau mereka mengerahkan tim yang terdiri dari orang-orang yang diperlukan untuk mendapatkan keuntungan itu. Mereka melakukan apa saja untuk membuatnya berhasil. Dalam bisnis jarang terdapat 1 jawaban yang paling tepat. Tapi sering terdapat sejumlah jawaban benar.

HENDAKNYA RESIKO MEMBUAT KITA BERPIKIR LEBIH CERMAT

Dalam hidup ini, tak ada sukses yang tak disertai resiko. Untuk sukses anda harus meluangkan waktu, mengeluarkan uang, tenaga dan upaya. Adanya resiko ini membuat anda harus memikirkannya secara cermat dan hati-hati. Menganalisa peluang, tapi jangan sampai rasa takut menghambat diri anda. Bekerja keras mengembangkan hal-hal riskan ini membuat anda lebih menghargai usaha anda. Anda baru bisa mengenali peluang jika bersedia mempertaruhkan waktu, uang dan tenaga anda. Percaya pada diri sendiri menimbulkan keberanian untuk menghadapi resiko dan bertindak ketika muncul peluang-peluang. Di dunia ini, tak ada orang yang memaksa anda untuk sukses. Anda hanya akan sukses jika mencarinya secara aktif.

Profil Sejarah Kota Yogyakarta yang Istimewa

Administrasi; Dipimpin oleh Gubernur secara administratif terdiri dari 35 kabupaten dan kotamadya, masing – masing secara berurutan dipimpin oleh Bupati dan Walikota. Kabupaten dan kota dibagi lagi menjadi kecamatan yang dipimpin oleh Camat. Kecamatan dibagi lagi menjadi desa sebagai tingkatan administratif yang paling rendah yang dikepalai oleh Kepala Desa.

Iklim; Temperatur rata – rata antara 21o – 32oC dan mempunyai 2 musim, yakni musim hujan (Oktober – Apri ), dan musim kemarau (April – Oktober)

Agama; Kebebasan menganut agama dilindungi oleh pemerintah, diantara lima agama yang diakui (Islam, Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu).

Bahasa; Walaupun sebagian besar masyarakatnya mempergunakan Bahasa Jawa dengan berbagai dialek, Bahasa Indonesia tetap sebagai bahasa utama.

Penduduk; Orang Jawa terkenal akan keramahan dan kesopanannya. Tahun 2000 populasi penduduk adalah 30,7 juta (896 orang per km2). Dengan mata pencaharian sebagai petani, pedagang, pegawai negeri. Selain suku bangsa asli, ada pula beberapa suku bangsa asing hidup di Jawa Tengah seperti bangsa Arab, China, India dan Pakistan. “Kebaya“ merupakan pakaian khas yang dipakai oleh kaum wanita.

Filosofi dan Budaya

Dasar filosofi pembangunan daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Hamemayu Hayuning Bawana, sebagai cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta berdasarkan nilai budaya daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Hakekat budaya adalah hasil cipta, karsa dan rasa, yang diyakini masyarakat sebagai sesuatu yang benar dan indah. Demikian pula budaya daerah di DIY, yang diyakini oleh masyarakat sebagai salah satu acuhan dalam hidup bermasyarakat, baik ke dalam (Intern) maupun ke luar (Extern). Secara filosofis, budaya Jawa khususnya Budaya DIY dapat digunakan sebagai sarana untuk Hamemayu Hayuning Bawana. Ini berarti bahwa Budaya tersebut bertujuan untuk mewujudkan masyarakat ayom ayem tata, titi, tentrem karta raharja. Dengan perkataan lain, budaya tersebut akan bermuara pada kehidupan masyarakat yang penuh dengan kedamaian, baik ke dalam maupun ke luar.

Perjuangan untuk mensejahterakan masyarakat telah diupayakan dan dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan diteruskan oleh pengganti beliau, tetap dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawana, yang artinya Kewajiban melindungi, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat dari pada memenuhi ambisi pribadi. Dunia yang dimaksud inipun mencakup seluruh peri kehidupan dalam sekala kecil, yaitu Keluarga ataupun masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan Dharma Bhakti untuk kehidupan orang banyak, tidak mementingkan diri sendiri.

Sejarah Kota Jogja

DIY adalah sebuah daerah otonomi setingkat propinsi, satu dari 26 daerah Tingkat I yang ada di Indonesia. Propinsi ini beribukota di Yogyakarta, sebuah kota yang kaya predikat, baik berasal dari sejarah maupun potensi yang ada, seperti sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata. Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).

Sebutan kota perjuangan untuk kota ini berkenaan dengan peran Yogyakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, maupun pada jaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan, baik Kerajaan Mataram (Islam), Kesultanan Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman. Sebutan kota kebudayaan untuk kota ini berkaitan erat dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan-kerajaan tersebut yang sampai kini masih tetap lestari. Sebutan ini juga berkaitan dengan banyaknya pusat-pusat seni dan budaya. Sebutan kata Mataram yang banyak digunakan sekarang ini, tidak lain adalah sebuah kebanggaan atas kejayaan Kerajaan Mataram.

Sebutan Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potenssi propinsi ini dalam kacamata kepariwisataan. Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata terbesar kedua setelah Bali. Berbagai jenis obyek wisata dikembangkan di wilayah ini, seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata pendidikan, bahkan, yang terbaru, wisata malam. Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di samping adanya berbagai pendidikan di setiap jenjang pendidikan tersedia di propinsi ini, di Yogyakarta terdapat banyak mahasiswa dan pelajar dari 26 propinsi (dulunya 27 propinsi sebelum Timor Timur keluar dari negara kesatuan Indonesia) di Yogyakarta. Tidak berlebihan bila Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia.

Disamping predikat-predikat di atas, sejarah dan status Yogyakarta merupakan hal menarik untuk disimak. Nama daerahnya memakai sebutan DIY sekaligus statusnya sebagai Daerah Istimewa. Status Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa berkenaan dengan runutan sejarah Yogyakarta, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. CAMkan itu!!

WE ARE NOT A SWISS ARMY KNIFE! Fenomena Dalam Profesi Disain Grafis

“Di cari seorang tukang bakso, syarat-syarat punya gerobak sendiri, berani buka usaha sendiri, punya modal sendiri….wah ini sih sama aja dagang sendiri…”

Dialog di atas adalah lawakan populer Warkop DKI yang sangat ngetop di era 80-an. Mereka mentertawakan fenomena iklan lowongan kerja di media masa waktu itu yang sudah mulai mensyaratkan macam-macam ketrampilan bagi pelamar. Kadang-kadang syarat-syarat itu demikian beratnya seperti misalnya pengalaman kerja di atas 3 tahun, punya kendaraan sendiri dan sebagainya. Sebagai pelawak yang juga mahasiswa dan sekaligus calon tenaga kerja, mereka menyadari bahwa syarat-syarat seperti itu tentunya akan sulit di penuhi oleh mereka yang baru lulus dan belum punya pengalaman.

Sekarang, walau tidak sama persis muncul fenomena yang sama di dunia disain grafis. Cermatilah iklan-iklan lowongan kerja bagi disainer grafis, memang tidak ada tuntutan memiliki kendaraan tetapi disainer grafis muda mutlak memiliki sejumlah ketrampilan yang kadang-kadang tidak masuk akal. Ambil contoh iklan di bawah ini:

Dibutuhkan seorang Disainer Grafis dengan syarat-syarat:

Memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun,
Dapat membuat gambar illustrasi freehand,
Menguasai komputer Macintosh dan aplikasi Corel Draw, Freehand, Illustrator, Photoshop, Dream Weaver, Flash dan 3D Studio Max.
Mampu membuat artwork, dan disain untuk web dan mengerti proses cetak.
Memiliki ide disain dan kreatifitas yang tinggi.
Sanggup bekerja keras dan lembur bila diperlukan.

Sebuah iklan yang segera menciutkan nyali disainer-disainer grafis muda yang berbakat tapi belum memiliki pengalaman kerja dan baru mempunyai pengetahuan komputer tingkat dasar saja. Bahkan seorang rekan saya sesama pengajar sering mengirimkan surat kepada pemasang iklan semacam ini. Bukan untuk melamar – karena dia sudah memiliki bisnis sendiri di bidang disain audio visual – tapi mencoba memberi pengertian kepada pemasang iklan, bahwa iklannya salah. Yang di cari bukan seorang disain grafis tapi sebilah pisau tentara swiss!

Ya Pisau tentara swiss atau lebih di kenal sebagai Swiss Army Knife, tentunya di rancang oleh seorang disainer, memiliki berbagai fungsi yang kadang mencapai seratus fungsi. Sebuah biro yang mencari disainer serba bisa masih terbilang wajar tetapi mencari seorang disainer yang bisa multi fungsi seperti sebilah swiss army knife adalah sebuah hal yang terlampau muluk.

Mengapa timbul iklan seperti itu? Alasan utamanya adalah adanya prinsip “Amogada” (Apa loe mau gua ada). Biro disain yang menggunakan prinsip ini jelas-jelas akan menomerduakan ide kreatif dan strategi komunikasi karena yang penting banyaknya order, yang penting kuantitas produk bukan kualitas. Untuk itu mereka perlu memperkerjakan disainer yang multi fungsi, kalau perlu bisa merangkap jadi sekretaris dan kurir sekaligus. Banyak kah biro semacam ini? Sedihnya jumlahnya luar biasa banyak, merekalah yang bersedia melakukan free pitching, piracy, mencuri ide dan tentu tidak mengenal etika bisnis dan profesi. Mengapa mereka tetap ada? Jawabannya mudah karena ada insan disainer yang mendukungnya. Siapa mereka? Jawabannya lebih mudah lagi…kita semua.

Kiat Sukses Dari Agensi Desain Terkemuka SPATCHURST

Sebagai suatu agensi desain terkemuka di Sydney, kiat-kiat sukses Spatchurst perlu untuk kita simak. Spatchurst merupakan suatu agensi desain multidisipliner yang didirikan ditahun 1984. Memberikan solusi komunikasi berdasarkan perencanaan strategis dan tujuan komunikasi yang terarah, adalah hal yang sangat penting dalam proses desain yang dilakukan oleh tim Spatchurst.

Tak sekedar desain yang indah, desain harus memiliki suatu kedalaman untuk menjawab suatu permasalahan. Solusi ini seyogyanya disampaikan dalam suatu bentuk yang tepat guna bagi kepentingan klien. Dengan fokus kepada kepentingan klien ini, Spatchurst menjadi salah satu pemain utama di industri komunikasi di Australia. Saat ini portfolio Spatchurst meliputi berbagai macamjenis komunikasi visual mulai dari: visual identity, publikasi, internet dan intranet, enviromental dan urban signage, eksebisi dan pusat pengunjung.

Pengelolaan Reputasi Korporat

Saat membagikan kiat bagaimana mengelola Corporate Reputation yang efektif. Spatchurst menceritakan bahwa pertama-tama kita harus mengerti tentang nilai-nilai, pencapaian, dan persepsi dari suatu brand milik organisasi terkait dan kondisi pasarnya. Dalam hal ini riset memegang peranan yang penting, hasil dari riset ini akan menjadi jangkar dari penciptaan desain yang dapat memberikan jawaban atas permasalahan. Tahap kedua setelah riset adalah perumusan strategi. Pada tahap ini konsultan desain bekerja sama dengan klien untuk bersama- sama menciptakan strategi yang unik dan khusus (sesuai dengan karakteristik problem yang harus dipecahkan). Saling pengertian antara klien dengan tim Spatchurst menciptakan suatu sinergi dalam hal penciptaan nama, desain brand architecture dan pengelolaan identity, serta pengembangan strategi komunikasi. Sinergi ini akan membawa brand dari klien menjadi hidup dan semakin berkembang. (djoko hartanto)

GOOD DESIGN IS GOOD BUSINESS

“good design is good will…” – Paul Rand

Rand sebagaimana kita semua kenal adalah pakar dan salah seorang pelopor desain grafis modern di Amerika Serikat. kiprahnya sebagai pengarah seni, guru, penulis dan konsultan di bidang desain grafis dan komunikasi visual merentang selama tujuh dasawarsa serta ditandai oleh kreasi-kreasinya yang brilian di bidang periklanan, penerbitan dan corporate design. Bila dibilang bahwa buah tangannya di era 50an dan 60an membuka jalan bagi perkembangan desain korporasi yang diterapkan secara luas di dunia sebagaimana kita kenal dewasa ini.

Bila kita menghubungkan nama Paul Rand, desain korporasi dan era 50an, tak pelak lagi kita akan berpikir: IBM

Adalah Thomas J Watson Jr, ahli waris dan penerus International Business Machine Corp yang pada tahun 1955 merasa bahwa, sebagai perusahaan yang berada di garda depan perkembangan teknologi kala itu, IBM tidak memiliki “warna” dan “citra” yang kuat. Perusahaan yang dipandang memiliki sistem identitas yang modern dan menarik saat itu adalah Olivetti, pembuat mesin tik ternama yang berbasis di Milan, Italia. Secara umum, desain grafis modern memang telah lebih dahulu berkembang didaratan eropa sejak awal abad ke-20, dipelopori oleh pergerakan Avant-Garde didunia seni yang kemudian melahirkan aliran-aliran konstruktivisme di Rusia, De Stijl di Belanda dan Bauhaus di Jerman.

Pada pertengahan dasawarsa 1950an itu, IBM pertama kali disadarkan oleh kenyataan bahwa desain memiliki dampak langsung dan nyata terhadap bagaimana sebuah perusahaan “dipandang” oleh masyarakat luas – tidak hanya masyarakat pengguna jasanya – dan, pada gilirannya, berdampak pada keberhasilan kinerja perusahaan itu sendiri. bersama-sama Eliot Noyes, seorang arsitek dan konsultan industri serta kawan seperjuangannya semasa Perang Dunia II, Tom Watson Jr. kemudian mengerahkan segala daya dan upaya guna mengubah tampilan IBM agar dapat duduk sejajar dengan Olivetti. Mister Watson Jr. khusus terbang ke Milan untuk bertemu dengan Signore Adriano Olivetti, kala itu pemimpin dari sebuah perusahaan yang telah berhasil menerapkan good design mulai dari gedung kantor, ruang pamer, produk, brosur dan periklanannya.

Adalah Eliot Noyes yang kemudian memperkenalkan Paul Rand ke IBM, dan melalui kolaborasi selama lebih dari dua dasawarsa, turut mengawasi salah satu bentuk transformasi korporasi yang paling legendaris sepanjang masa. IBM tidak hanya berhasil mengubah citra dan warna sosoknya, namun juga berhasi mengubah kultur perusahaannya sejalan dengan perubahan citranya tersebut. Pada tahun 1975, tak pelak lagi, IBM dipandang sebagai perusahaan nomor satu dibidangnya, antara lain berkat mutu produknya, kepeloporannya, komitmennya dan tak kalah pentingnya adalah penampilannya.

Sejarah mengenai bagaimana IBM berhasil menerapkan corporate design sebagai salah satu kunci keberhasilan strategi usahanya merupakan cerita tersendiri yang tak akan habis dibahas. Konon kabarnya, kata “corporate design” itu sendiri lahir bersama upaya IBM tersebut dan diatribusikan kepada Paul Rand sebagai orang yang pertama kali menciptakan ungkapan itu.

Kini memasuki abad ke-21 dengan segala hiruk pikuknya, dunia mengenal desain korporasi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perusahaan modern yang tidak ingin tercampakkan dari persaingan global. Nama nama seperti Nike, Apple Computer, Bang & Olufsen, Mercedes Benz hanaylah segelintir brand yang seperti IBM, sangat mengerti akan daya tarik maupun pengaruh dari corporate design. Mereka tidak saja berlomba mengemas produknya dengan desain yang memukau (bandingkan desain komputer Mac dengan PC kebanyakan), tapi juga menjadikan desain sebagai unsur yang terpadu dan mampu menyatukan pesan visual utama yang ningin disampaikan oleh perusahaan tersebut. Maka, tanpa ragu sedikitpun perusahaan-perusahaan ini menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta dolar setiap tahunnya dalam menunjang desain korporasi mereka.

Apapun hasilnya sepadan dengan upaya serta biaya yang dicurahkan?

Beberapa riset ternyata mendukung investasi di bidang desain korporasi yang dikatakan berdampak langsung terhadap kinerja usaha. Sebuahn studi di Korea Selatan baru-baru ini oleh Seoul National University bahkan berani menyimpulkan bahwa, setidaknya di negeri itu, untuk setiap satu Dolar Amerika yang diinvestasikan dalam hal desain, penjualan meningkat $19. Di Kerajaan Inggris, The UK Design Council pernah membentuk “indeks desain” yang terdiri atas 63 perusahaan Inggris yang dipandang menerapkan corporate design secara efektif, dan membandingkan kinerja saham 63 perusahaan tersebut dengan indeks 100-saham FTSE (semacam indeks saham gabungan Bursa Efek Jakarta). Selama lebih dari 10 tahun,pertumbuhan indeks desain ternyata mengungguli pembandingnya sebesar 200 persen.

Berbagai hasil riset seperti ini dan banyak lagi yang mendukung nyatanya menfaat corporate design telah mendorong perusahaan-perusahaan kelas dunia untuk mengalokasikan sumber daya yang tidak kecil guna menunjang strategi desain mereka. tidak heran apabila belum lama ini kita mendengar Mercedes Benz menunjuk Giorgio Armani sebagai konsultan desain untuk turut memikirkan desain dan interior sedan Mercedes. Sebuah perusahaan kue dan makanan Perancis yang telah berdiri sejak abad ke-19 baru-barun ini membajak seorang Creative Director sebuah biro iklan ternama guna menjabat sebagai Chief Design Officer perusahaan makanan tersebut. Tanggung jawabnya mulai dari mengembangkan logo baru, mengubah citra ratusan toko kue dan restoran yang dimiliki perusahaan tersebut, hingga membantu para Chef dan juru masak menciptakan bentuk-bentuk kue dam makanan dengan desain, tampilan maupun kemasan yang telah menarik. Bayangkan waktu dan modal yang dihabiskan untuk semua ini.

Derap langkah desain yang pasti dan semakin terasa didunia korporasi ini juga tak luput dari perhatian kalangan akademisi. Di Massachussets Institute of Technology, misalnya program bisnis yang diajarkan di Sloan School of Management memiliki program multidisipliner yang memungkinkan mahasiswa dari berbagai latar belakang tehnik, pemasaran atau keuangan di MIT untuk berinteraksi dengan mahasiswa desain dari Rhode Island School of Design. Di University College, London, kini telah diupayakan pilot project untuk mengajarim mahasiswa tehnik maupun bisnis mengenai desain. Sementara dua sekolah bisnis top di Italia, Milan Polytechnic dan Bocconi University, memberikan pelajaran desain sebagai bagian dari kurikulum tetap mereka.

Agaknya, pemikiran dari sekolah-sekolah ini adalah semakin dini para calon eksekutif bisnis itu menarik eksposurterhadap nuansa-nuansa subtil sebuah desain, semakin mudah mereka akan terasimilasi dengan dunia desain yang kian terpengaruh dan menentukan di dunia bisnis belakangan ini. Mengingatkan kita pada motto: Good Design is Good Business

Tapi seberapa jauh kebenaran motto ini? Rasanya kita hanya perlu menarik pengalaman dari kegiatan sehari-hari untuk membuktikannya. Tidakkah kita selalu terkesima setiap kali kita menemukan desain yang menawan – sebuah rumah yang indah, misalnya atau mobil yang sleek dan elegan. Bila kita menonton film – apakah di gedung bioskop atau rumah – khususnya bagi mereka yang aware terhadap nuansa desain, kita merasa seperti “dijanjikan” sebuah film yang luar biasa apabila credit titles di awal film, tampil secara indah dengan jenis huruf dan tata letak yang menawan, diiringi musik dan efek suara yang serasi pula. Semuanya dirancang dan didesain secara rinci dan detail guna menangkap perhatian dan panca indera sang penonton. Dan bila (desain) itu berhasil, diharapkan penonton jatuh hati pada pandangan pertama.

Hal yang sama kita rasakan pada saat kita memasuki kantor bank, lobby hotel, restoran atau apa saja, serta melihat sesuatu  untuk pertama kalimya. Impresi pertama kita akan sangat menentukan penilaian kita terhadap produk atau perusahaan yang sedang kita kunjungi atau amati. Akankah kita kembali lagi? Bisakah kita mengingatnya kembali? Maukah kita mengulangi pengalaman kita..? Begitu banyak yang kiranya dapat ditentukan oleh corporate design semata.

Disarikan dari Dinki Pudijanto, principal media mark group. Concept edisi II